RSS

Wirausahawan

17 Nov

BAB I

Pengantar

Dalam menghadapi masalah pengangguran yang terjadi salah satu solusi yang sangat efektif adalah munculnya wirausahawan atau dapat disebut juga dengan entrepreneur. Wirausahawan atau entrepreneur dapat bergerak dalam bidang apa saja. Seorang wirausahawan yang membangun suatu usaha kecil dapat mengurangi 5-10 orang pengangguran. Bayangkan jika banyak seorang lulusan universitas yang berotensi menjadi entrepreneur membuat sebuat usaha sendiri maka lama-kelamaan jumlah pengangguran akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Seorang entrepreneur juga harus memiliki pengertian atau pendalaman apa saja yang akan dialami dan apa yang harus dilakukan dalam dunia usahanya. Mereka harus mengetahui apa solusi dari masalah yang mereka hadapi. dan sebab akibat dari setiap keputusan yang mereka ambil.

BAB II

Dasar Teori

Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan, keinginan, dorongan atau influs. Motivasi seseorang tergantung kapada kekuatan motifnya. Motif dengan kekuatannya yang sangat besarlah yang akan menentukan perilaku sesorang. Motif yang kuat ini seringkali berkurang apabila telah mencapai kepuasan ataupun karena menemui kegagalan. Jadi, kekuatan motif ini dapat berubah karena :

  1. Terpuaskannya kebutuhan; Bila kebutuhan telah terpuaskan maka motif akan berkurang, dan beralih kepada kebutuhan lain dan seterusnya.
  2. Karena adanya hambatan, maka orang mencoba mengalihkan motifnya ke arah lain.
    Adanya frustasi memberikan beberapa kemungkinan terhadap kekeuatan motif. Pertama bisa menmbuhkan patah semangat, dan tidak mau mencoba lagi. Akibatnya produktivitas atau prestasi kerja dari karyawan akan menurun. Namun adapula karyawan yang karena frustasi memberikan balikan yang sangat positif lalu dia mencoba lagi sekuat tenaga. Hanya jika dia mengalami frustasi lagi maka akibatnya menjadi fatal. Mereka dapat melakukan tindakan destruktif, demontrasi, menyerang pimpinan, merusak kantor dan sebagainya.
  • Teori Motivasi Hawthorne

Pada tahun 1924, ahli efisiensi Elton Mayon mengadakan penelitian di Hawthorne Illinois, Western Electric Coy mengenai pengaruh lampu penerangan terhadap produktivitas karyawan. Penelitian ini mencoba menemukan kombinasi yang terbaik untuk mengacu produktivitas maksimum dari karyawan melalui barbagai macam percobaan, antara lain dengan merubah jam kerja, makan siang, metode kerja, dan sebagainya. Elton Mayo menduga bahwa produktivitas akan meningkat dengan peningkatan penerangan. Dia mengambil dua kelompok, satu kelompok eksperimen dan kelompok kontol. Kedua kelompok disamakan fasilitasnya kecuali penerangan. Ketika penerangan ditinggkatkan pada kelompok eksperimen, output meningkat sesuai dengan yang diramalkan. Sesatu yang diluar dugaan, output kelompok kontrol juga meningkat tanpa diberi penerangan.

Setelah diteliti penyebab produksi meningkat, ternyata bukan karena aspek yang dieksperimenkan, melainkan karena, “ aspek-aspek manusia”. Mereka merasa diperlakukan seperti orang penting pada bagian perusahaan itu. Mereka dapat berhubungan satu sama lainnya, dan tidak lagi merasa terisolasi, perasaan berafiliasi, kompeten dan berprestasi mulai bertunas di dalam hati mereka. Mereka bebas bicara tentang apa yang mereka anggap penting.

Penelitian oleh Elton Mayo pada perusahaan General Electric kawasan Hawthorn di Chicago, memilki dampak pada motivasi kelompok kerja dan sikap karyawan dalam bekerja. Kontribusi hasil penelitian tersebut bagi perkembangan teori motivasi adalah :

  1. Kebutuhan dihargai sebagai manusia ternyata lebih penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja karyawan dibandingkan dengan kondisi fiisik lingkungan kerja.
  2. Sikap karyawan dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi baik di dalam maupun di luar lingkungan tempat kerja.
  3. Kelompok informal di lingkungan kerja berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan sikap para karyawan.
  4. Kerjasama kelompok tidak terjadi begitu saja, tetapi harus direncanakan dan dikembangkan.
  • Teori X dan Teori Y (Douglas Mc. Gregor)

Teori X mengasumsikan bahwa kebanyak orang lebih suka dipimpin tidak punya tanggng jawab dan ingin selamat saja, ia dimotivasi oleh uang, keuntungan dan ancaman hukuman. Manajer yang menganut teori X akan menganut sistem pengawasan dan disiplin yang ketat terhadap para pekerja.

Sedangkan teori Y mengasumsikan bahwa oarang itu malas bukan karena ketat atau pembawaan sejak lahir. Semua orang sebenarnya bersifat kreatif, yang harus dibangkitkan atau dirangsang oleh pemimipin. Teori X menyatakan bahwa sebagian besar orang-orang ini lebih suka diperintah, dan tidak tertarik akan rasa tanggung jawab serta menginginkan keamanan atas segalanya. Lebih lanjut menurut asumís teori X dari McGregor ini bahwa orang-orang ini pada hakekatnya adalah :

  1. Tidak menyukai bekerja
  2. Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau diperintah
  3. Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalah-masalah organisasi.
  4. Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
  5. Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan organisasi.

Untuk menyadari kelemahan dari asumí teori X itu maka McGregor memberikan alternatif teori lain yang dinamakan teori Y. asumís teori Y ini menyatakan bahwa orang-orang pada hakekatnya tidak malas dan dapat dipercaya, tidak seperti yang diduga oleh teori X. Secara keseluruhan asumís teori Y mengenai manusia hádala sebagai berikut:

  1. Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan lepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jira keadaan sama-sama menyenangka.
  2. Manusia dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi.
  3. Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
  4. Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan social, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.
  5. Orang-orang dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jira dimotivasi secara tepat.

Dengan memahami asumís dasar teori Y ini, McGregor menyatakan selanjutnya bahwa merupakan tugas yang penting bagi menajemen untuk melepaskan tali pengendali dengan memberikan desempatan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing individu. Motivasi yang sesuai bagi orang-orang untuk mencapai tujuannya sendiri sebaik mungkin, dengan memberikan pengarahan usaha-usaha mereka untuk mencapai tujuan organisasi.

Kedua teori ini jangan disimpulkan bahwa teori X jelek dan teori Y baik. Teori X dan Y hanya memberikan kira-kira arah atau kecendrungan orang.

BAB III

Pembahasan

A. Pengertian

Entrepreneur, dalam bahasa Indonesia disebut wirausahawan, adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) mendefinisikan wirausahawan sebagai “orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya. Sedangkan Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan..

Persamaannya dari pengertian – pengertian tersebut yaitu wirausahawan memiliki dan mampu berpikir kreatif-imajinatif, melihat peluang dan membuat bisnis baru. Seorang wirausahawan adalah seorang manajer, tetapi melakukan kegiatan tambahan yang tidak dilakukan semua manajer. Manajer bekerja dalam hierarki manajemen yang lebih formal, dengan kewenangan dan tanggung jawab yang didefinisikan secara jelas sedangkan pengusaha menggunakan jaringan daripada dari kewenangan formal. Wirausahawan menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian untuk tujuan mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang signifikan dan sumber daya yang diperlukan.

 

B. Cirri-ciri

Terdapat lima ciri-ciri seorang entrepreneur adalah sebagai berikut.

1. Berani mengambil resiko

Artinya berani memulai sesuatu yang serba tidak pasti dan penuh resiko. Dalam hal ini, tentu tidak semua resiko diambil, melainkan hanya eiko yang telah diperhitungkan seara cermat.

2. Menyukai tantangan

Segala sesuatu dilihat sebagai tantangan, bukan masalah. Perubahan yang terus terjadi dan zaman yang serba edan menjai menjadi motivasi kemajuan, bukan menciutkan nyali seorang entrepreneur unggulan. Dengan demikian, seorang enterpreur akan terus memacu dirinya untuk maju, mengatasi segala hambatan.

3. Punya daya tahan tinggi

Seorang entrepreneur harus banyak akal dan tidak mudah putus asa. Ia harus selalu mampu bangkit dari kegagalan dan tekun.

4. Punya visi jauh ke depan

Segala yang dilakukannya punya tujuan jangka panjang meski dimulai dengan langkah yang amat kecil. Ia punya target untuk jangka waktu tertentu.

5. Selalu memberikan yang terbaik

Entrepreneur akan mengerahkan semua potensi yang dimilikinya. Jika hal itu dirasa kurang, ia akan merekrut orang- orang yang lebih kompeten agar dapat membarikan yang terbaik kepada pelanggannya.

 

C. Mitos

Mitos- mitos tentang wirausahawan katanya wirausahawan adalah pelaku, bukan pemikir. Seringkali mereka adalah orang yang sangat metodis sehingga merencanakan tindakan mereka dengan hati-hati.  Mereka dilahirkan, tidak diciptakan. Hari ini, pengakuan EAS Adiscipline membantu untuk menghilangkan mitos ini. Seperti semua disiplin ilmu, wirausahawan memiliki model, proses, dan kasus yang memungkinkan topik untuk dipelajari.

  • Mereka adalah penemu, misalnya Ray Kroc, bukan ia yang menemukan waralaba makanan, tetapi ide-ide inovatifnya membuat McDonalds terbesar ke seluruh dunia.
  • Mereka adalah orang aneh akademik dan sosial, keyakinan bahwa pengusaha adalah akademisi dan sosialisi yang tidak berhasil akibat dari beberapa pemilik usaha yang memulai perusahaan yang sukses setelah putus sekolah atau berhenti bekerja tapi tidak lagi dipandang demikian, saat ini dipandang sebagai seorang profesional.
  • Orientasi wirausahawan adalah uang, uang adalah sumber daya tetapi tidak pernah menjadi tujuan akhir.
  • Semua membutuhkan keberuntungan, benar bila keberuntungan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat akan selalu menghasilkan keuntungan. Tapi keberuntungan terjadi ketika persiapan bertemu kesempatan.
  • Wirausahawan adalah pengambil risiko yang ekstrim (penjudi), sebaliknya bekerja dengan resiko yang diperhitungkan. Wirausahawan bekerja paling sukses keras lewat perencanaan dan persiapan untuk meminimalkan risiko yang terlibat dalam rangka untuk lebih mengontrol nasib visi mereka.

D. Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan

Ada beberapa kelebihan entrepreneurship menurut (Zimmerer, Scarborough, 2008) adalah sebagai berikut :

1. Peluang mengendalikan nasib sendiri

Memiliki suatu bisnis memberikan kebebasan dan peluang pada entrepreneur untuk mencapai sasaran yang penting baginya. Para entrepreneur ingin menjadi “pemberi aba-aba” dalam hidup mereka, dan menggunakan bisnisnya untuk mewujudkan keinginannya dalam hidup. Mereka meraih kepuasan pribadi dengan menyadari bahwa mereka sendirilah daya dorong di balik bisnis mereka.

2. Kesempatan untuk melakukan perubahan

Semakin banyak entrepreneur yang memulai bisnis karena mereka melihat kesempatan untuk membuat perubahan yang menurut mereka penting, misalnya mengatasi pengangguran di Indonesia. Para entrepreneur kini menemukan cara untuk mengkombinasikan keprihatinan mereka terhadap masalah-masalah sosial dengan untuk menjalani kehidupannya yang lebih baik.

3. Peluang untu menggunakan potensi sepenuhnya

Terlalu banyak orang yang merasakan bahwa pekerjaan mereka membosankan, tidak menantang, dan tidak menarik. Kebanyakan entrepreneur tidak banyak perbedaan antara kerja dan bermain game; keduanya sama saja. Bisnis-bisnis yang dimiliki para entrepreneur merupakan alat untuk aktualisasi diri. Tim McDonald, yang pada usia 31 telah mendirikan beberapa perusahaan, menjelaskan, “Saya ingin berada dalam situasi dimana pertumbuhan Anda hanya dibatasi oleh bakat dan kekuatan Anda sendiri dan itu berarti situasi kewirausahaan.

4. Peluang untuk meraih keuntungan tanpa batas

Meskipun uang bukan daya dorong utama bagi entrepreneur, keuntungan dari bisnis mereka penting sebagai faktor motivasi dalam memutuskan pendirian bisnis.

5. Peluang melakukan sesuatu yang anda sukai

Yang umum dirasakan para pemilik bisnis kecil adalah bahwa kegiatan kerjamereka sesunguhnya bukanlah kerja. Kebanyakan entrepreneur yang berhasil memilih masuk dalam bisnis tertentu, sebab mereka tertarik dan menyukai pekerjaan tersebut. Mereka membuat kegemaran mereka menjadi pekerjaan mereka dan mereka senang bahwa mereka melakukannya.

Kekurangan

Meskipun pemilik bisnis mendapatkan banyak keuntungan dan memperoleh banyak peluang, siapapun yangberencana memasuki dunia entrepreneurship harus menyadari adanya potensi kelemahan.

1. Pendapatan yang tidak pasti

Membuka dan menjalani sebuah bisnis baru tidak langsung memberi jaminan bahwa entrepreneur yang menghasilkan cukup uang untuk hidup. Beberapa perusahaan kecil sangat sulit memperoleh cukup pendapatan agar dapat membayar pemilik-managernya secara layak. Dalam awal usaha, pemilik sering menghadapi masalah kewajiban keuangan dan hidup dari tabungan. Belum lagi, pemilik usaha adalah orang terakhir yang menerima gaji. Jadi, dengan menjadi entrepreneurship semata-mata karena uang, dijamin anda akan gagal.

2. Resiko kehilangan seluruh investasi

Tingkat kegagalan bisnis relatif tinggi. Menurut penelitian, 24% bisnis baru gagal dalam waktu 2 tahun, dan 51% tutup dalam waktu 4 tahun. Setelah 6 tahun, 63% bisnis baru akan gulung tikar. Penelitian juga menunjukkan bila sebuah perusahaan menciptakan paling tidak satu pekerjaan di awal tahun, mungkin kegagalan setelah 6 tahun merosot menjadi 35%.

3. Kerja lama dan kerja keras

Memulai bisnis sering menjadi suatu jadwal mimpi buruk. Enam atau tujuh jam tanpa uang lembur di hari libur merupakan hal yang biasa. Sering terjadi bila bisnis tutup maka pelanggan akan pergi ke tempat lain. “Meskipun bisnis itu milik anda sendiri, Anda tetap bekerja untuk orang lain yaitu pelanggan dan klien Anda”, kata Jill Stenn, mitra pendiri bisnis perencanaan tata ruang.

4. Mutu hidup yang lebih rendah sampai bisnis mapan

Kerja panjang dan kerja keras yang diperlukan untuk mendirikan isnis akan menyita waktu istirahat dan seringkali waktu bersama keluarga dari si entrepreneur. Karena itu sangat bagus untuk memulai bisnis sejak muda sebelum bekeluarga.

5. Ketegangan mental yang tinggi

Memulai dan mengelola suatu bisnis merupakan pengalaman yang luar biasa, tetapi juga dapat merupakan suatu ketegangan mental yang tinggi. Entrepreneur sering menanamkan modal yang besar dalam perusahaan di luar keamanan dan kemampuan keuangannya serta menggadaikan segala sesuatu yang dimiliki untuk usahanya. Kegagalan berarti kehancuran kuangan, dan itu menciptakan tingkat ketegangan dan kekawatiran yang tinggi.

6. Tanggung jawab penuh

Memang hebat menjadi bos sendiri, tetapi banyak entrepreneur harus membuat keputusan untuk hal-hal yang tidak benar-benar dikuasainya. Bila tidak ada seorang pun tempat bertanya, ketegangan dapat terbentuk dengan cepat. Menyadari bahwa keputusan yang diambil adalah penyebab keberhasilan atau kegagalan akan mengakibatkan dampak yang merusak pada beberapa orang. Pemilik bisnis kecil dengan cepat menyadari bahwa mereka sendirilah bisnisnya.

E. Atribut

Ada beberapa atribut dalam kewirausahaan

1. Innovativeness

“Inovasi selalu membawa perkembangan dan perubahan ekonomi, demikian dikatakan oleh Joseph Schumpeter. Teori Schumpeter merangsang seseorang untuk berinovasi. Inovasi yang dimaksud bukanlah suatu temuan yang luar biasa, tetapi suatu temuan yang menyebabkan berdayagunanya sumber ekonomi kearah yang lebih produktif. Seorang wirausahawan, sebagai innovator harus merasakan gerakan ekonomi tersebut selalu diantisipasinya dengan penggunaan inovasi”. (Muhammad, 1992, p.138) dalam (Alma, 2007, p.55)

2. Risk taking

Banyak arti mengenai resiko ini, namun pada dasarnya bahwa resiko merupakan sesuatu, dalam hal ini yang akan diterima atau ditanggung oleh seseorang sebagai konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan

Berikut ini diberikan beberapa arti lain dari resiko

  1. Resiko adalah kesempatan timbulnya kerugian
  2. Resiko adalah kemungkinan timbulnya kerugian
  3. Resiko adalah ketidakpastian
  4. Resiko adalah penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan
  5. Resiko adalah suatu hasil yang berbeda dari hasil yang diharapkan

Dengan adanya resiko ini, maka akibat yang mungkin akan ditimbulkan antara lain sebagai berikut :

  1. Timbul kerugian, artinya bahwa dengan resiko, maka hasil positif yang akan diperoleh atau diharapkan nantinya, dalam hal keuntungan akan berkurang dari semestinya
  2. Adanya ketidakpastian, artinya bahwa dengan adanya resiko, maka tidakmungkin lagi dapat dipastikan hasil yang positif yang mungkin akan diterima, karena resiko tidak bisa dihitung secara pasti.

3. Proactiveness

“Proactiveness adalah suatu upaya untuk memfokuskan diri di dalam lingkungan pengaruh. Lingkungan pengaruh mengajarka seseorang untuk mengerjakan hal-hal yang terhadapnya mereka dapat berbuat sesuatu. Sifat dari kekuatan mereka adalah positif, meluaskan, dan memperbesar, yang menyebabkan lingkungan pengaruh mereka meningkat”. (Covey, 1994, p.73)

“Proactiveness adalah mengembangkan kebiasaan yang pertama dan paling mendasar dari manusia yang sangat efektif dalam lingkungan apapun”. (Covey, 1994, p.60)

4. Competitive Aggresiveness

Competitive Aggressiveness diartikan bagaimana mereaksikan kecenderungan kompeteif dan permintaan yang telah ada pada pasar (Lumpkin dan Dess, 2001). Competitive Aggressiveness adalah penelitian sederhana kompetisi model oligopolistic, dimana salah satu dari dua firma menyediakan dua pasar yang saling berkoneksi, satu yansg lain tawanan bertanding. Firma hanya diasumsikan untuk memaksimalkan beruntung tunduk ke pada dua batasan, satu terkait dengan daya saing, yang lain untuk memasarkan. Competitive Aggressiveness dari masing-masing firma diukur oleh harga tersembunyi yang relative dari batasan terdahulu, keudian diambil sebagai satu parameter untuk menandai setelan dai equilibria.

5. Autonomy

Pekerja mempunyai kebijakan dalam mengambil keputusan tentang cara kerja mereka yang mereka yakini paling efektif. Perusaan sebaiknya mengijinkan karyawan untuk membuat keputusan tentang proses kerja mereka dn sebaiknya menghindari kesalahan.

BAB IV

Penutup

4.1.Kesimpulan

Wirausahawan atau entrepreneur merupakan seseorang yang penting dalam pengembangan di dunia usaha dan juga sebagai lahan untuk mengurangi penganguran. Dalam hal pengelolaan usahanya, usaha yang didirikan oleh entrepreuner hampir sama dengan  pengelolaan perusaan besar lainnya. Walaupun terlihat mudah dalam menjadi wirausahawan dengan menjadi pemilik dari perusaan, tetapi hal-hal yang dilakukan dalam menjalani usahanya pasti ada keuntungan dan kerugian yang tidak sedikit. Jika para wirausahawan tidak dapat mengelola usahanya dengan baik maka usaha yang didirikannya pun akan cepat ‘jatuh’.

4.2 Daftar pustaka

Cha. 2010. TEORI ENTREPRENEUR. http://cha-mujahidjambi.blogspot.com/2010/11/teori-entrepreneur.html

http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?submit.x=0&submit.y=0&submit=prev&page=15&qual=high&submitval=prev&fname=/jiunkpe/s1/eman/2009/jiunkpe-ns-s1-2009-31404189-11855-atribut-chapter2.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Wirausahawan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: