RSS

Meningkatkan Kecerdasan dengan Musik

19 Dec

Meningkatkan Kecerdasan dengan Musik

 

Faniardhiny B

14509040

2PA01

 


BAB I

Pendahuluan

 

Jauh sebelum anak-anak mampu mengucapkan kata-kata yang dapat dimengerti, orang tua dapat memperkenalkan inti komunikasi dan hubungn sosial kepada mereka dengan cara mendukung serta mendorong mereka untuk mengembangkan keterampilan berbahasa. Karena kepekaan akan musik dan unsur-unsurnya (ritme, pitch [tinggi rendah nada], dan timbre [warna suara]) berkembang dengan kecepatan yang sama seperti bicara, musik dapat menjadi alat bantu yang ampuh untuk mengembangkan kepekaan suara dan keterampilan berbahasa. Kecepatan anak-anak menghafal sajak singkat, jingle-jingle iklan TV, dan lagu-lagu popular menunjukkan manfaat menggabungkan musik dengan bahasa verbal maupun bahasa nonverbal. Dengan membantu kita untuk rileks, mengendalikan diri, fokus, dan membersihkan pikiran kita, musik dapat membantu kita semua (bagi anak-anak maupun orang dewasa) untuk lebih mudah dan cepat menyimpan sejumlah besar informasi. Begitu kita memperoleh informasi tersebut, elemen musik seperti tempo, melodi, dan tritme akan semakin memudahkan kita dikemudian hari untuk mengingat serta mengenali bukan hanya lagu serta liriknya, namun juga peristiwa perasaan yang berhubungan dengan musik tersebut.

Sebagai kekuatan dahsyat yang dianggap biasa, musik dapat sengajadigunakan untuk berbagai macam tujuan. Musik dapat digunakan sebagai motivator atau hadiah atas terselesaikannya tugas dan tanggung jawab. Musik bisa menjadi sangat efektif di bidang akademis, dengan membantu pebentukan pola belajar, mengatasi kebosanan, dan menangkal kebisingan eksternal yang menggangu (atau percakapan dalam pikiran). Musik juga dapat membantu mengatur waktu dengan menciptakan kecepatan yang diinginkan. Dengan menstimulasi pikiran, mengaktifkan emosi, serta menyingkirkan keheningan yang kaku, music mendorong terjadinya percakapan sosial, yang membantu kita membangun dan mengembangkan hubungan antar pribadi.

Bahkan. Aktivitas mendengarkan musik saja telah terbukti mampu meningkatkan keterampilan mendengarkan secara umum, meningkatkan perhatian, dan mengungkapkan pandangan dan perasaan. Dengan memperkuat sumber-sumber pribadi kita serta mendrong gerakan maju. Music dapat membantu kita merasa lebih bertenaga dan percaya diri, memperkuat harga diri dan membantu kita melihat diri sendiri, serta duniasecara lebih positif dan optimis. Ketika semuanya gagal, dan teman atau keluarga tidak berada didekat kita, music mampu mengusir kesedihan tersebut, menghapus kemarahan, melepaskan stres, serta mengurangi rasa takut dan cemas.

BAB II

Penguasaan musik dan bahasa

Masa pra-sekolah merupakan masa persiapan anak belajar berinteraksi sosial dalam lingkungan kelompok sebaya. Dalam periode interaksi dengan kelompok sebaya, anak cenderung lebih terbuka dengan ragam peluang eksplorasi aktivitas kelompok. Pada periode awal aktivitas bersama dalam kelmpok anak cenderung terlibat dengan aktivitas musik tradisional. Kesinambungan penyajian ragam musik dan lagu tradisional anak cenderung lebih memberi kesempatan pada anak untuk mempersiapkan diri dalam berinteraksi sosial.

Musik memberikan nuansa yang bersidat menghibur. Sifat menghibur ini menumbuhkan suasana yang mengembirakan dan menyenangkan bagi seorang anak. Apalagi jika lagu-lagu yang dipedengarkan itu sesuai dengan suasananya. Misalnya, senandung ibu dipedengarkan ketika anak berada di peraduan. Lagu gembira depedengarkan ketika anak sedang bermain. Nuansa hiburan itu memberi dukungan positif bagi anak dalam menjalankan aktivitasnya. Senandung ibu ketika anak di peraduan member rasa aman, nyaman, dan tentram pada anak sehingga anak lebih mudah tertidur. Lagu gembira memberikan rangsangan aktivitas psikoisik pada anak sehingga anak dapat larut dalam irama dan tempo musik ketika mereka sedang bermain dan proses bermainpun dapat menghibur. Oleh karena itu, pemanfaatan musik dalam berbagai kativitas anak sangat dianjurkan.

Secara umum, musik menimbulkan gelombang vibrasi, dan vibrasi itu menmbulkan stimulasi pada gendang pendengaran. Stimulasi itu ditransmisikan susunan saraf pusat (limbic system) di sentral otak yang merupakan gudang ingatan, lalu hypothalamus atau kelenjar sentral pada susunan saraf pusat akan mengatur segala sesuatunya untuk mengaitkan music dengan respon tertentu.

Dan kita akan membahas pembentukan bahasa dan percakapan, serta merekomendasikan beberapa alat suara yang dapat digunakan para orangtua untuk membimbig anak-anak mereka melalui masa transisi dan tahapan pra verbal ( sebelum bisa berbicara) sampai tahap verbal (berbicara menggunakan kata-kata).

Beberapa kegunaan musik pada anak-anak :

  • Mempertajam kemampuan memusatkan perhatian dan memperhatikan.
  • Mengembangkan kepekaan akan ritme, harmoni, tempo, dan antisipasi.
  • Menyediakan cara berkomunikasi nonverbal
  • Berfungsi sebagai jembatan pengantar yang membantu anak-anak mengembangkan kosakata serta mempelajari cara-cara baru untuk mengekspresikan diri.
  • Memberikan sarana yang dapat digunakan anak-anak untuk memulai menyusun suara dengan cara mengulang pola tertentu, skema ritmis, dan ketukan berkesinambungan yang membantu menciptakan serta mempertahankan kestabilan tempo.
  • Meningkatkan rasa nyaman dengan perilaku yang terorganisir, bertujuan dan terkendali. Meningkatkan kewaspadaan.
  • Memberikan jalan keluar untuk menyalurkan energy dalam seluruh tahap perkembangan, dari berceloteh hingga bernyanyi, dari meloncat hingga menari, dan dari melompat hingga aerobic.
  • Menyediakan cara bagi anak-anak untuk berhun=bungan dengan teman sebaya mereka, sehingga membantu mereka, sehingga membantu mereka membangun citra diri maupun citra kelompok, gaya komunikasi dan keterampilan bersosialisasi.
  • Membantu mengembangkan ingatan pendengaran dan pembedaan suara.

Merangsang Fungsi Otak

Musik member rangsanan pertumbuhan fungsi-fungsi pada otak (fungsi ingatan, blajar bahasa, mendengar, dan bicara, serta analisis, intelek, dan fungsi kesadaran) dan merangsang pertumbuhan gudang ingatan. Dengan menikmati musik, gudang ingatan anak semakin lama semakin berkembang sehingga daya ingat anak semakin besar. Selain itu, mampu merengsang proses belajar anak. Sebagai contoh, anak dapat belajar mengembangkan kemampuan bahasa dengan memperkaya kosa kata, kemampuan anak untuk menangkap informasi verbal dan mengkomunikasikannya menjadi lebih baik. Akibatnya, kemampuan berkomuikasi anak pun menjadi semakin baik. Selain itu, dengan mendengarkan lagu, anak juga belajar mengembangkan fungsi analisis.

Merangsang Otak secara Fisik

Terapi musik telah berlangsung sejak lama. Dalam catatan sejarah, Nabi Daud sering menggunakan musik untuk tujuan penyembuhan. Bangsa Indian pun menggunakan musik sebagai salah satu sarana terapi, di samping menggunakan ramuan obat dari berbagai macam tumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa musik mampu mengaktifkan kembali fungsi otak yang telah mengalami penurunan akibat adanya gangguan sakit.

Musik lebih mudah dicerna oleh orang yang memiliki kondisi fisik otak yang lebih baik. Ada yang beranggapan bahwa bukan musik yang memperbaiki kondisi fisik otak, melainkan kondisi fisik otak yang lebih baik memungkinkan seseorang belajar musik. Planum temporale dan corpus callosum para musisi cenderung lebih besar dari orang lain pada umumnya karena para musisi telah belajar musik relatif lebih lama dari pada orang lain. Planum temporale adalah bagian otak yang banyak berperan dalam fungsi pendengaran dan kemampuan verbal, sedangkan corpus callosum dalah bagian otak yang berfungsi sebagai lintas transformasi sinyal dari belahan otak kiri ke belahan otak kanan.

Selain itu, daerah cerebellum para musisi memiliki ukuran 5% lebih besar dari rata-rata orang yang bukan musisi. Cerebellum adalah bagian otak yang mencangkup sekitar 70% saraf otak sehingga aktivitas belajar musik memang meningkatkan kemampuan saraf otak. Kasus lain menunjukkan bahwa musik menggugah kembali fungsi kerja otak dari beberapa pasien di rumah sakit yang beberapa saat sebelumnya menderita koma (coma).

Meningkatkan Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif (nalar) merupakan fungsi yang sangat pengting dalam aktivitas kerja otak. Fungsi kognitif memungkinkan seseorang untuk berfikir, mengingat, mengalanisis, belajar, dan secara umum melakukan aktivitas mental yang lebih tinggi (higher mental processes). Secara umum musik mampu membantu seseorang untuk meningkatkan konsentrasi, menenangkan pikiran, musik membentuk nuansa ketenanga, dan membantu seseorang dalam melakukan meditasi. Jadi, musik membantu individu mengembangkan proses mental yang lebih tinggi untuk meningkatkan kesadaran.

Dalam seni musik, mungkin hanya Wolfgang Amadeus Mozart yang jenius mampu menciptakan banyak karya secara spontan, tanpa revisi, dan mampu ditampilkan dengan sempurna. Kenyataan ini merupakan bukti adannya keterkaitan antara musik dengan fungsi kognitif. Individu yang memiliki daya nalar atau kemampuan kognitif baik belum tentu menjadi musisi, tetapi seorang musisi harus memiliki kemampuan kognitif yang dapat diandalkan. Tanpa kemampuan kognitif yang baik sulit menciptakan karya musik.

Merangsang Proses Asosiatif

Proses asosiatif adalah salah satu bentuk proses berfikir untuk mengingatkan satu hal dengan hal lainnya. Jika seseorang mendengar kata “merah” otomatis alam pikirannya terarah pada bunga mawar yan berwarna merah. Ketika seorang remaja mendengar lagu tyang pernah didengar bersama kekasihnya maka ia akan teringat kekasihnya. Proses ini berlangsung seolah-olah otomatis tetapi sesungguhnya memakan waktu tertentu dan menggunakan aktivitas energi pada saraf otak

Musik merangsang tumbuh dan berkembangnya kemampuan asosiatif anak. Lagu anak-anak yang dirancang dengan menyisipkan kata-kata tertentu merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan asosiatif anak. Irama musik yang sesuai dengan daya tangkap musikal anak menumbuhkan ritme internel pada dirinya sehongga suatu saat anak mendengar music dengan irama tersebut, assosiasinya terhadap nuansa kasih sayang terbentuk. Demikian juga ketik anak beranjak dewasa assosiasi terhadap kasih sayang dan pengalaman masa kecilnya tergugah kembali. Dengan demikian lagu yang di dengarkan dapat menjadi perangsang yang menggugah individu untuk mengikat kembali pengalaman emosional pada masa kanak-kanak.

Merangsang Rekognisi (Mengenal Kembali)

Proses rekognisi merupakan salah satu proses penting dalam fungsi berfikir. Banyak orang mungkin tidak begitu menyadari bahwa proses ini berlangsung cukup kompleks dan melibatkan ragam fungsi kerja otak. Pada mulanya, rangsangan diterima oleh pendengaran dan disampaikan ke otak dengan menggunakan sinyal tertentu yang melintas pada jaringan saraf. Otak kemudian menganalisis sinyal yang dikirimkan oleh pendengaran dan mengolahnya untuk kemudian mencari pedanannya dengan koleksi data yang tersimpan di gudang ingatan. Jika sinyal tersebut sesuai dengan salah satu koleksi data gudang ingatan, otak akan kembali mengirimkan sinyal kesaraf pegindraan untuk melakukan respon yang sesuai dengan sinyal.

Jika seseorang mendengar alunan musik, saraf indra pendengaran mengirim sinyal ke otak untuk mengenali alunan musik tersebut. Otak menganalis sinyal dan mencari pandanan sinyal di gudang ingatan. Jika individu pernah mendengar alunan serupa maka individu yang bersangkutan akan melkukan respon, seperti menghentkkan kaki atau bersiul mengikuti lagu yang didengarnya.

Musik Memperluas Gudang Ingatan

Berbagai bentuk pengaaman memberikan kontribusi koleksi data dalam gudang ingatan. Ragam music juga memberikan kontribusi data di dalam gudang ingatan. Makin banyak pengalaman, makin banyak data tersimpan di dalam gudang ingatan. Namun, gudang ingatan memiliki keterbatasan. Jika jumlah data yang masuk jauh lebih besar dari pada daya tamping dalam gudang ingatan, akan terrjadi kepadatan data. Kepadata data dapat menimbulkan kesulitan individu untuk memanggil kembali ingatan (proses retrieval).

Music merupakan bentuk data yang sudah terorganisir dalam irama dan inotasi serta interpretasi. Bentuk data yang sudah terorganisir ini merupakan satu kesatuan utuh dan bukan merupan kepingan data yang setiap kali harus dirancang bangun ketika individu hendak memanggil kembali ingatannya. Ketika seorang anak belajar sebuah lagu, ia belajar menghafal kata dan kalimat satu persatu. Kata, kalimat, dan irama merupakan elemen-elemen yang bersiri sendiri . namun ketika sudah menguasai lagu tesebut, lagu itu menjadi suatu bentuk kesatuan yang tidak terpisahkan. Akibatnya, jika kata-kata dan kalimat lagu diubah, individu membutuhkan waktu yang lama untuk menyesuaikan kembali.

Musik mampu menggugah inividu untuk memanggil kembali data lainnya karena adanya proses asosiatif. Musik yang telah menjadi suatu kesatuan organisasi bukan lagi merupakan gabungan elemen bunyi melainkan merupakan bentuk stimulus tunggal yang mampu menggugah individu mengingat suatu peristiwa. Hal ini berlangsung sesuai dengan prinsip gestalt, yaitu suatu bagian dapat memberi gambaran keseluruhan. Dengan mrndengar sekeping irama, seseorang dapat membayangkan gambaran lagu secaramenyeluruh. Jadi, musik merupakan data yang juga berfungsi sebagai perangsang atau stimulator untuk memanggil kembali ingatan lain. Banyaknya ragam musik yang direkam dalam ingatan dengan ragam bentuk data yang terorganisisr sehingga indifidu lebih mampu mengklasifikasikan kelompok ingatan dan mengaitkannya dengan musik.

Merangsang Perkembangan Bahasa

Sudah banyak pakar mengembangkansarana music untuk program belajar bahasa bagi anak. Dalam program pendidikan di berbagai lembaga pendidikan bahasa, musik, serta lagu sering digunakan untuk membantu para siswa agar lebih mampu belajar bahasa. Dalam masyarakat umum pun banyak orang mengenal istilah asing karena mereka mengenal lagu yang mereka dengar dan nyanyikan. Sebagian orang memahami makna syair lagu dari seringnya mereka mendengarkan lagu tersebut, tetapi ada pula sebagian orang yang kemudian tergugah untuk mengetahui secara pasti dan lebih mendalam tentang makna syair dari lagu tersebut. Jadi, lirik music juga menggugah individu untuk memahami kata dalam artian tata bahasa, serta memahami ragam ungkapan dalam artian seni sastra. Syair musical bersifat puitis dan puisi erat hubungannya dengan seni sastra sehingga melalui proses belajar music, seorang anak dapat memperkaya pengetahuannya dalam ungkapan-ungkapan yang terkait dengan seni sastra.

Perkembangan Bahasa Praverbal ke Verbal

Meskipun ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan bagaimana kemampuan musical, bahasa dan berbicara diperoleh dan dikembangkan, ada kesepakatan pokok yang menyatakan bahwa ketiga kemampuan tersebut berkembang dengan kecepatan yang sama.

Pendapat-pendapat berikut ini adalah yang paling umum diterima

Genetis : Teori “Saya Dilahirkan Demikian!” Pandangan genetis tersebut merupakan teori yang didasarkan pada psikologi dan neurologi. Teori tersebut mengatakan bahwa otak kita sudah “terprogram” sejak lahir. Kemampuan kita dalam berbahasa dan berbicara sudah terbentuk sebelum kita lahir. Kemampan tersebut kita wariskan dan berkembang dengan kecepatan alamiah tertentu.

Perilaku : Teori “Lakukan Apa Yang Anda Pelajar, Pelajari Apa Yang Ada Lakukan!” Teori perilaku mengatakan bahwa kemampuan berbicara maupun bahasa secara langsung dan tidak langsung dibentuk serta diajarkan oleh orangtua, saudara kandung, dan orang lain yang menguatkan berbagai elemen bahasa yang akhirnya menjadi bahasa yang kita kuasai.

Kognitif : Teori “Latihlah.. Pahami.. Katakan!” Model kognitif mengasumsikan bahwa pola bahasa dan pola berbicara berkembang dari gambaran mental dan mengikuti, bukannya mendahului, perkembangan intelektual.

Sejumlah aliran pemikiran lain mengatakan bahwa perkembangan bahasa melibatkan dua atau tiga hal diatas, dan menambahkan unsure sosial, budaya dan berbagai unsur lainnya. Apapun teori yang dianut para orangtua, dengan memberikan dukungan, kesempatan dan dorongan, paa dasarnya orangtua mampu memberikan pengaruh yang besar dan positif pada kemampuan anak-anak mereka untuk mempelajari, menggunakan dan mengapresiasi bahasa, music dan suara-suara lain.

Mengembangkan Keterampilan Berbahasa

Seperti yang dapat diperkirakan, perkembangan kemampuan berbicara, bahasa serta merespn terhadap music dan suara lain behkan ilmu pasti dan akan berbeda dari orang ke orang. Harapan yang tidak ealistis sering kali membuat para orangtua dan anak-anak mereka frustasi. Walaupun ada perbedandari anak ke anak, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa perkembangan vocal preverbal dan verbal terjadi diantara waktu lahir dan usia empat puluh tahun delapan bulan dengan mengikuti urutan tertentu.

DARI LAHIR SAMPAI USIA SATU BULAN : Beberapa saat setelah lahir, bayi sudah mampu membedakan berbagai macam suara, dan secara instingtif mencari sumber suaranya, menyesuaikan diri pada perubahan ritme dan memusatkan perhatian pada music yang ada disekitar mereka. Selama tahap ini, bayi belajar mengkoordinasikan dan mengontrol pola bernafas mereka. Inilah periode pertama produksi celotehan dan bunyi suara dengan pola tangis yang sporadis dan tidak menentu.

DUA SAMPAI TIGA BULAN : Mengoceh dan berceloteh, termasuk perubahan pada tinggi-rendah nada serta jenis bunyi suara celotehan, umumnya terjadi. Tangisan menjadi cara untuk berkomunikasi, bayi mengandalkan tangisan dan suara-suara lain untuk mengomunikasikan kebutuhan serta perasaannya eperti merasa senang, tidak nyaman, dan lapar. Bahkan bisa terjadi bahwa beberapa bayi mampu menirukan suara, tinggi-rendah nada, dan volume pada skala tertentu dan bahkan menirukan melodi yang dinyanyikan oleh ibu mereka.

EMPAT SAMPAI ENAM BULAN : Tahap ini biasanya merupakan periode untuk bermain vocal, seperti mengeluarkan bunyi berbisik dengan nada tinggi, berteriak, berbisik, dan menjerit-jerit. Pada usia ini, karena sudah cukup selektif terhadap pilihan music serta suara, para bayi akan melonjak-lonjak dan bergoyang saat mendengar ketukan musik. Bahkan pada tahap awal tersebut, beberapa bayi mampu menirukan pola ritmis tertentu dalam usaha mereka untuk bicara.

TUJUH SAMPAI SEBELAS BULAN : “Laling” (upaya menirukan suara tertentu yng telh mereka dapatkan selama beberapa bulan pertama) mengikuti tempo ritmis, termasuk “menyanyi” secara melodis. Inilh awalnya sebuah proses di mana bayi mencoba mengulang-ulang bunyi vocal dan knsonan, yang nantinya akan menhasilkan pembicaraan dan nyanyian yang benar.

SEMBILAN SAMPAI DUABELAS BULAN : Celotehan yang lebih teratur dan “kata-kata” awal yang menunjukkan kemampuan musikal, permainan kreatif, dan pengenalan akan lagu-lagu yang biasa mereka dengar umumnya terjadi pada tahap ini. Menirukan orang berbicara dan mengulang suara menjadi semakin persis namun masih tetap dalam taraf mencoba-coba. Selama tahun pertama tersebut, ritme merupakan unsure yang mempunyai pengaruh besar terhadap bayi, yang sering kali melonjak-lonjak mengikuti lagu dan suara ritmis.

DUA BELAS SAMPAI DELAPAN BELAS BULAN : Kata-kata tunggal dapat diucapkan dengan benar dan disengaja ketika anak-anak mampu menangkap melodi, ritme bahkan potongan kata dari lagu-lagu yang mereka kenal serta percakapan orang dewasa. Tinggi-rendah nada menjadi semakin jelas  di tahun kedua, begitu para bayi mencoba menggunakan “alat” baru ini (dan juga, tenggang rasa orangtuanya) pada wilayah jelajah baru.

DELAPAN BELAS BULAN SAMPAI DUA PULUH EMPAT BULAN : Anak-anak bermain secara kreatif dengan lagu-lagu fvorit mereka, menirukan dan mendahului melodi, serta mencoba ikut bernyanyi saat lagu-lagu dimainkan atau dinyanyikan. Penggunaan bahasa untuk komunikasi sosial biasanya dimulai pada tahun kedua ketika kosa kata berkembang dan bertambah banyak dengan kecepatan yang luar biasa.

DUA PULUH EMPAT BULAN SAMPAI TIGA PULUH ENAM BULAN : Selama tahun ketiga, anak-anak biasanya mampu berkomunikasi secara verbal, menyanyikan lagu-lagu popular dan sajak anak-anak, menirukan jingle dan berbicara dengan lebih ritmis. Lagu-lagu spontan dengn tempo dan nada sedang tercipta secara acak atau digabungkan dari lagu-lagu favorit mereka ketika anak-anak itu berusaha untuk menciptakan bentuk musiknya sendiri. waktu yang tepat untuk lagu-lagu yang penuh imajinasi serta menirukan tingkah laku.

TIGA PULUH ENAM SAMPAI EMPAT PULUH DELAPAN BULAN : Tingginya kesadaran akan berbagai macam bunyi (musikal serta nonmusikal), berbagai variasi tinggi-rendah nada, dan “tinggi-rendah nada absolut” semakin diperkuat pada tahun ketiga dan keempat. Lagu-lagu tradisional yang dinyanyikan bersama rekan sebaya sudah menjadi hal yang biasa, dan pengalaman mencoba yang kreatif memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menemukan nada-nada yang teratur dan bisa diterima. Meskipun telah mampu menggunakan kata-kata dan menirukn berbagai macam ritme tanpa kesulitan berarti, beberapa anak di usia ini ada yang masih harus berjuang untuk menguasai tinggi-rendah nada serta melodi. Pada tahap ini, banyak anak yang mulai mampu ambil bagai dalam permainan musical yang memerlukan beberapa koordinasi sederhana gerakan tbu. Hal ini merupakan cara terbaik bagi mereka untuk mempelajari konsep seperti naik dan turun, kiri dan kanan, serta cepat dan lambat.

Walaupun beberapa anak, seperti yang telah disebutkan di atas, pada dasarnya mampu mencocokkan tinggi-rendah nada dan bentuk melodi lau-lagu tertentu sejak usia dua atau tiga bulan, beberapa anak lain tetap mengalami  kesulitan memproduksi suara-suara tersebut sampai mereka berusia lima atau enam tahun. Namun demikian, sebagian besar anak yang dibesarkan dalam budaya barat mampu memahami, balajar, mengapresiasi, dan menirukan lagu-lagu popular serta tradisional begitu mereka masuk kelas satu.

Sekitar usia empat tahun, anak-anak mulai membentuk landasan musikal yang cukup kuat. Landasan tersebut menngkatkan serta memperbaiki kemampuan mereka dalam memproduksi suara denganberbagai macam cara.

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Musik sangat berguna bagi kecerdasan anak terlebih pada masa pra-sekolah dimana otak lebih banyak menyerap informasi-informasi dari lingkungannya. Musik dapat meningkatkan kecerdasan, konsentrasi, dan ingatan bagi anak. Musik memberikan nuansa yang lebih menyenangkan bagi anak untuk belajar, sehingga proses belajar yang dilakukan akan lebih disenanginya. Dengan proses belajar yang ia senangi, anak dapat lebih banyak menyerap informasi-informasi yang diberikan.

Daftar Pustaka

Ortiz, John M. 2002. Nurturing Your ChildWith Music. Jakarta : Gramedia.

Satiadarma dan Roswiyani P. Zahra. 1999. Cerdas dengan Musik. Jakarta : Puspa Swara.

Djohan. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta : Best Publisher.

Elizabeth B. Hurlock. 1978. Child development (edisi keenam). Jakarta : Erlangga.

Papalia, Diane E, Sally W. Olds, dan Ruth D. Feldman. 2009. Human Development (eleventh edition). New York : McGraw-Hill.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: