RSS

Rancangan Sistem Pakar

05 Nov

Sistem pakar adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar. Pakar yang dimaksud disini adalah orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat selesaikan orang awam. Sebagai contoh, dokter adalah seorang pakar yang mampu mendiagnosis penyakit yang diderita pasien serta dapat memberikan penatalaksanaan terhadap penyakit tersebut.

Secara garis besar, banyak manfaat yang dapat diambil dengan adanya sistem pakar, antara lain

  • Membuat seorang yang awam bekerja seperti layaknya seorang pakar.
  • Meningkatkan produktivitas akibat meningkatnya kualitas hasil pekerjaan, meningkatnya kualitas pekerjaan ini disebabkan meningkatnya efisiensi kerja.
  • Menghemat waktu kerja.
  • Menyederhanakan pekerjaan.
  • Merupakan arsip terpercaya dari sebuah keahlian, sehingga bagi pemakai sistem pakar seolah-olah berkonsultasi langsung dengan sang pakar, meskipun mungkin sang pakar telah tiada.
  • Memperluas jangkauan, dari keahlian seorang pakar. Di mana sebuah sistem pakar yang telah disahkan, akan sama saja artinya dengan seorang pakar yang tersedia dalam jumlah besar (dapat diperbanyak dengan kemampuan yang persis sama), dapat diperoleh dan dipakai di mana saja.

Bagian-bagian yang secara umum ada pada struktur detail sistem pakar

  • Knowledge Aqcuisision System
    • Knowledge Base
    • Inference engine
    • User Interface
    • User
    • Workplace (Blackboard)
    • Explanation Subsystem
    • Knowledge refining system

Retardasi mental

Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembanganmental yang terhenti atau tidak lengkap, yng terutama ditandai oleh adanya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingakat intelegensi yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau ganguan fisik lainnya. Namun, penyandang retardasi mental dapat mengalami semua gangguan jiwa yang ada. Selain itu penyandang retardasi mental mempunyai resiko lebih besar dieksploitasi dan diperlakukan salah secara fisik atau seksual.

Retardasi mental adalah penurunan fungsi intelektual yang menyeluruh secara bermakna dan secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan bermanifestasi selama masa perkembangan. retardasi mental merupakan suatu kelainan mental seumur hidup, diperkirakan lebih dari retardasi mental merupakan masalah di bidang kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial dan pendidikan baik pada anak yang mengalami retardasi mental tersebut maupun keluarga dan masyarakat. Retardasi mental merupakan suatu keadaan penyimpangan tumbuh kembang seorang anak sedangkan peristiwa tumbuh kembang itu sendiri merupakan proses utama, hakiki, dan khas pada anak serta merupakan sesuatu yang terpenting pada anak tersebut. Terjadinya retardasi mental dapat disebabkan adanya gangguan pada fase pranatal, perinatal maupun postnatal.

Rick Heber (Sularyo & Kadim, 2000) mendefinisikan retardasi mentai debagai suatu penurunan fungsi intelektual secara menyeluruh yang terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial. Ada 3 hal penting yang merupakan kata kunci dalam definisi ini yaitu penurunan fungsi intelektual, adaptasi sosial, dan masa perkembangan. Penurunan fungsi intelektual secara umum menurut definisi Rick Heber diukur berdasarkan tes intelegensia standar paling sedikit satu deviasi standar (1 SD) di bawah rata-rata. Periode perkembangan mental menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai umur 16 tahun. Gangguan adaptasi sosial dalam definisi ini dihubungkan dengan adanya penurunan fungsi intelektual.

Menurut Grossman retardasi mental adalah penurunan fungsi intelektual yang menyeluruh secara bermakna dan secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan bermanifestasi selama masa perkembangan. Menurut definisi ini penurunan fungsi intelektual yang bermakna berarti pada pengukuran uji intelegensia berada pada dua deviasi standar di bawah rata-rata.

Retardasi mental ringan

Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dididik (educable). Anak mengalami gangguan berbahasa tetapi masih mampu menguasainya untuk keperluan bicara sehari-hari dan untuk wawancara klinik. Umumnya mereka juga mampu mengurus diri sendiri secara independen (makan, mencuci, memakai baju, mengontrol saluran cerna dan kandung kemih), meskipun tingkat perkembangannya sedikit lebih lambat dari ukuran normal. Kesulitan utama biasanya terlihat pada pekerjaan akademik sekolah, dan banyak yang bermasalah dalam membaca dan menulis. Dalam konteks sosiokultural yang memerlukan sedikit kemampuan akademik, mereka tidak ada masalah. Tetapi jika ternyata timbul masalah emosional dan sosial, akan terlihat bahwa mereka mengalami gangguan, misal tidak mampu menguasai masalah perkawinan atau mengasuh anak, atau kesulitan menyesuaikan diri dengan tradisi budaya.

Retardasi mental sedang

Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dilatih (trainable). Pada kelompok ini anak mengalami keterlambatan perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa, serta pencapaian akhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan mengurus diri sendiri dan ketrampilan motor juga mengalami keterlambatan, dan beberapa diantaranya membutuhkan pengawasan sepanjang hidupnya. Kemajuan di sekolah terbatas, sebagian masih bisa belajar dasar-dasar membaca, menulis dan berhitung.

Retardasi mental berat

Kelompok retardasi mental berat ini hampir sama dengan retardasi mental sedang dalam hal gambaran klinis, penyebab organik, dan keadaan-keadaan yang terkait. Perbedaan utama adalah pada retardasi mental berat ini biasanya mengalami kerusakan motor yang bermakna atau adanya defisit neurologis.

Retardasi mental sangat berat

Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anak sangat terbatas kemampuannya dalam  mengerti dan menuruti permintaan atau instruksi. Umumnya anak sangat terbatas dalam hal mobilitas, dan hanya mampu pada bentuk komunikasi nonverbal yang sangat elementer.

Faktor penyebab retardasi mental antara lain

  • Faktor genetik

Kelainan kromosom autosomal adalah berhubungan dengan retardasi mental. Selain kromosom mungkin tedapat dalam jumlah atau dalam bentuknya.

–          Kelainan dalam jumlah kromosom, antara lain terdapat pada Sindrome Down atau Langton-Down ata mongolisme (trisomi otosomal atau trisomi kromosom 21).

–          Kelainan dalam bentuk kromosom, “Chi du chat” : tidak terdapat cabang pendek pada kromosom 5.

  • Faktor pranatal

Diperlukan dalam perkembangan janin, meliputi kesehatan fisik, psikologis, dan nutrisi maternal selama kehamilan. Penyakit dan kondisi kronis maternal yang mempengaruhi perkembangan normal sistem saraf pusat janin adalah diabetes yang tidak terkendali, anemia, emfisema, hipertensi, dan pemakian jangka panjang alkohol dan zat narkotik. Infeksi maternal selama kehamilan, terutama inveksi virus yang telah diketahui menyebabkan kerusakan janin dan retardasi mental. Derajat kerusakan janin tergantung pada variabel tertentu seperti jenis infeksi virus, usia kehamilan janin, dan keparahan penyakit (Kaplan & Sandock dalam Putri, 2011).

  • Faktor perinatal

Bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah berada dalam resiko tinggi mengalami gangguan neurologis dan intelektual yang bernaifestasi selama bertahun-tahun sekolahnya. Derajat gangguna saraf biasanya berhubungan dengan beratnya pendarahan intracranial atau tanda-tanda iskemia serebral. Selain itu trauma sebelum lahir, seperti sinar-X, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat megakibatkan kelainan dengan retardasi mental. Pada waktu lahir kepala dapat mengalami tekanan sehingga timbulpendarahan di dalam otak. Mungkin juga terjadi kekurangan O2 (asfiksia neonatorum) yang terjadi pada 1/5 dari semua kelahiran. Hal ini dapat terjadi kaena aspirasi lender, aspirasi liquor amnii, anesthesia ibu dan prematuritas. Bila kekuranga zat asam berlangsung terlalu lama maka akan terjadi degenerasi sel-sel korteks yang kelak mengakibatkan retardasi mental.

  • Gangguan didapat pada masa anak-anak

–          Infeksi, yang paling serius mempengaruhi integritas serebral adalah ensefalitis dan meningitis. Ensefalitis campak telah hampir dihilangakan oleh pemakaian vaksin campak di selruh dunia, dan insiden infeksi bakterial pada sistem saraf pusat telah diturunkan dengan nyata oleh obat anti bakterial. Sebagian besar episode ensefalitas disebabkan oleh organisme virus. Meningitis yang diidagnosis lambat, dapat secara serius mempengaruhi perkembangan kognitif anak.

–          Trauma kepala, dapat menjadi penyebab kecatatan mental pada anak, misalnya akibat kecelakaan di rumah (seperti terjatuh dari meja, jendela terbuka atau dari tangga) dan kecelakaan kendaraan bermotor. Selain itu, penyiksaan pada anak juga dapat menjadi suatu penyeban cedera kepala.

–          Masalah lain, misalnya pemaparan zat kimia, tumor intrakranial, pembedahan, dan kemoterapi juga dapat merugikan fungsi otak.

  • Faktor lingkungan dan sosiokultural

Retardasi mental dapat disebabkan oleh faktor-faktor biomedis ataupunsosiobudaya (yang berhubungan dengan deprivasi psikososial dan penyesuaian diri)

–          Retardasi mental akibat cultural-familial, apabila didapatkan retardasi mental palig sedikit pada salah seorang dari orang tua penerita dan pada seorang atau lebih sudaranya. Selain itu anak-anak dalam keluarga dengan ekonomi dan pendidikan rendah dapat mempengaruhi perkembangan anak.

–          Retardasi mental akibat lingkungan, timbul karena kurangnya rangsangan dari lingkungan, antara lain rangsangan sensorik. Terlalu kurangnya komunikasi verbal mengakibatka kesukaran mengutarakan isi pikiran dalam kata-kata dan penalaran konkret serta menghambat perkembangan pemikiran abstrak pada anak.

Klasifikasi berdasarkan skor IQ dari tes Binet dan Wechsler

Klasifikasi IQ skala Binet

(SD = 15)

IQ skala Wechsler

(SD = 16)

Ciri-ciri
Ringan (mild) 68 – 52 69-55
  • Dapat diajar membaca, menulis dan berkomunikasi
  • Dapat merawat dirinya dan melakukan pekerjaan rumah
  • Tidak dapat didik di sekolah biasa tetapi harus di lembaga istimewa atau SLB
  • Tidak dapat berfikir secara abstrak, hanya hal-hal konkret yang dapat dipahami
  • Koordinasi motorik tidak mengalami gangguan
  • Kurang dapat membedakan hal baik dan buruk
  • Perkembangan fisiknya normal tapi perkembangan bicaranya masih lambat.
  • Tidak didapat kelainan kongenital
Sedang (moderate) 51-36 54-40
  • Dapat dilatih merawat dirinya sendiri
  • Mengenal bahaya dan dapat menyelamatkan diri sendiri
  • Koordinasi motorik biasanya masih sedikit terganggu
  • Biasanya masih didapat kelainan kongenital
  • Dapat dilatih pekerjaan sederhana dan rutin
  • Dapat menghitung 1-20 dan membaca beberapa suku kata dan mengetahui macam-macam warna
  • Perkembangan fisik dan berbicara masih lambat
  • Penilaian terhadap baik dna buruk masih kurang
Berat (severe) 35-20 39-25
  • Dapat dilatih merawat dirinya sendiri
  • Mudah terserang penyakit
  • Didapatkan kelainan kongenital
  • Kuku dan spastis
  • Gerakan motorik terganggu
  • Perkembangan fisik dan berbicara terlambat
Sangat berat (profound) <19 <24
  • Tidak dapat merawat dirinya sendiri
  • Tidak mengenal bahaya
  • Gerakan motorik terganggu, kuku dan spatis
  • Didapati kelainan kongenital
  • Perkembangan fisik dan berbicara terlambat
  • Mudah terserang penyakit
  • Sering tak dapat bicara, bicara hanya satu suku kata saja (pa, ma)

Diagnosis

Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas tes intelegensia saja, melainkan juga dari riwayat penyakit, laporan dari orangtua, laporan dari sekolah, pemeriksaan fisis, laboratorium, pemeriksaan penunjang. Yang perlu dinilai tidak hanya intelegensia saja melainkan juga adaptasi sosialnya. Dari anamnesis dapat diketahui beberapa faktor risiko terjadinya retardasi mental.

Pemeriksaan fisis pada anak retardasi mental biasanya lebih sulit dibandingkan pada anak normal, karena anak retardasi mental kurang kooperatif. Selain pemeriksaan fisis secara umum (adanya tanda-tanda dismorfik dari sindrom-sindrom tertentu) perlu dilakukan pemeriksaan neurologis, serta penilaian tingkat perkembangan. Pada anak yang berumur diatas 3 tahun dilakukan tes intelegensia.

Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala dapat membantu menilai adanya kalsifikasi serebral, perdarahan intra kranial pada bayi dengan ubun-ubun masih terbuka. Pemeriksaan laboratorium dilakukan atas indikasi, pemeriksaan ferriklorida dan asam amino urine dapat dilakukan sebagai screening PKU.

Pemeriksaan analisis kromosom dilakukan bila dicurigai adanya kelainan kromosom yang mendasari retardasi mental tersebut. Beberapa pemeriksaan penunjang lain dapat dilakukan untuk membantu seperti pemeriksaan BERA, CT-Scan, dan MRI.

Kesulitan yang dihadapi adalah kalau penderita masih dibawah umur 2-3 tahun, karena kebanyakan tes psikologis ditujukan pada anak yang lebih besar. Pada bayi dapat dinilai perkembangan motorik halus maupun kasar, serta perkembangan bicara dan bahasa. Biasanya penderita retardasi mental juga mengalami keterlambatan motor dan bahasa.

Kriteria diagnosis retardasi mental (Kaplan & Sandock dalam Putri, 2011)

  • Fungsi intelektual yang secara bermakna dibawah rata-rata : IQ kira-kira 70 atau kurang pada tes IQ yang dilakukan secara individual.
  • Adanya defisit atau gangguan yang menyertai dalam fungsi adaptif pada sekurang-kurangnya dua bidang keterampilan komunikasi, merawat diri, keterampilan sosial atau interpersonal, menggunakan sarana masyarakat, mengarahkan diri sendiri, keterampilan akademik fungsional, pekerjaan, liburan, kesehatan dan keamanan.
  • Onset sebelum usia 18 tahun

Pengobatan

  • Occupasional therapy (terapi gerak)

Terapi ini diberikan kepada anak retardasi mental untuk melatih gerak fungsional anggota tubuh (gerak kasar dan halus).

  • Play therapy (terapi bermain)

Terapi yang diberikan pada anak retardsi mental dengan cara bermain, misalnya memberikan pelajaran tentang hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.

  • Activity daily Living (ADL) atau kemampuaan merawat diri

Untuk memandirikan anak retardasi mental, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendiri tanpa bantuan rng lain dan tidak tergantung kepada orang lain.

  • Life skill (keterampilan hidup)

Nanak yang memerlukan layanan khusus, terutama anak dengan IQ di bawah rata-rata biasanya tidak diharapkan bekerja sebagai administrator, bagi anak retardasi mental yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan untuk dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, unutk bekal hidup mereka diberikan pendidikan keterampilan. Mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.

  • Vocational Therapy (terapi bekerja)

Selain diberikan latihan keterampilan. Anak retardasi mental juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang telah dimilikinya, anak retardasi mental diharapkan dapat bekerja.

Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja, melainkan juga pada orang tuanya. Mengapa demikian? Siapapun orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental, apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat. Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling. Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu. Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesis dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan, persalinan, dan pertumbuhan serta perkembangan anak. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.

  • Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental

–          Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan sebaik-baiknya.

–          Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah.

–          Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang, sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang.

Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi mental mudah terinterupsi. Untuk mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera.

  • Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental

Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi mental, yaitu:Latihan di rumah:

–          belajar makan sendiri, membersihkan badan dan berpakaian sendiri, dst.

–          Latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap sosial.

–          Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin penderita.

–          Latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal yang baik dan buruk secara moral

Berikut ini rancangan sistem pakar untuk penyakit mental retardation

Davison, Neale & Kring. (2010). Psikologi abnormal. Jakarta:Rajagrafindo Persada.

Dewi, N. A. (2010). Hubungan self esteem dan sikap penerimaan orang tua yang memiliki anak tunagrahita. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Juliana. (2009). Perancangan sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit ayam menggunakan PHP. Skripsi. Depok: Universitas Gunadarma.

Kuntjojo. (2009). Psikologi abnormal. Kediri : Universitas Nusantara PGRI.

Kusrini. Aplikasi sistem pakar. (2008). Pengantar sistem pakar. Bab 1 pengenalan sistem pakar.

_____. (1993). Pedoman golongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta: world health organization.

Maramis, W. F. (1994). Retardasi Mental dalam Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Universitas  Airlangga.

Putri, P. P. (2011). Hubungan antara usia dan prestasi belajar dengan gerak motorik halus pada retardasi mental di SLB Abdi Pratama Jakarta Timur. Skripsi. Jakarta: Universias Pembangunan Nasional.

_____. (2011). Retardasi mental. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&amp; source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CB8QFjAA&url=http%3A%2F%2Fjudzrun-children.googlecode.com%2Ffiles%2FRetardasi%2520Mental.pdf&ei=ycmWUP2BCsq3rAfOgIGoDQ&usg=AFQjCNEmo9v15yE_n_tDYq5tn0wIHJmYOw

Retnaningtias, A & Styaningsih, R. (2012). Perilaku seksual remaja retardasi mental. Proyeksi, Vol.4 (2).

Semium, Y. (2006). Kesehatan mental 2. Yogyakarta: Kanisius.

Sularyo, T.S., & Kadim, M. (2000). Retardasi mental. Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: