RSS

Monthly Archives: March 2013

Person Centered Therapy

Seperti yang telah dituliskan pada post sebelumnya, terdapat salah satu pedekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik yaitu Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy (dapat disebut juga dengan Person Centered Therapy). Client-Centered Therapy adalah terapi yang dikembangkan oleh Carl Rogers yang didasarkan kepada asumsi bahwa klien merupakan ahli yang paling baik bagi dirinya sendiri dan merupakan orang yang mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tugas terapis adalah adalah mempermudah proses pemecahan masalah mereka sendiri. Terapis juga tidak mengajukan pertanyaan menyelidik, membuat penafsiran, atau menganjurkan serangkaian tindakan. Istilah terapis dalam pendekatan ini kemudian lebih dikenal dengan istilah fasilitator (Atkinson dkk., 1993).

Untuk mencapai pemahaman klien terhadap permasalahan yang dihadapi, maka dalam diri terapis diperlukan beberapa persyaratan antara lain adalah: empati, rapport, dan ikhlas.

carl rogers

Empati adalah kemampuan memahami perasaan yang dapat mengungkapkan keadaan klien& kemampuan mengkomunikasikan pemahaman ini terhadap klien.

Terapi berusaha agar  masalah yang dihadapi klien dipandang dari sudut klien sendiri. Rapport adalah menerima klien dengan tulus sebagaimana adanya, termasuk pengakuan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk terlibat secara konstruktif dengan masalahnya. Ikhlas dalam arti sifat terbuka, jujur, dan tidak berpura-pura atau bertindak di balik topeng profesinya (Atkinson dkk.,1993).

Selain ketiga hal tersebut, di dalam proses konseling harus terdapat pula adanya jaminan bahwa masalah yang diungkapkan oleh klien dapat dijamin kerahasiaannya serta adanya kebebasan bagi klien untuk kembali lagi berkonsultasi atau tidak sarna sekali jika  klien sudah dapat memahami permasalahannya sendiri.

Menurut Rogers (dalam Corey, 1995), pertanyaan “Siapa Saya?” dapat menjadi penyebab kebanyakan seseorang datang ke terapis untuk psikoterapi. Kebanyakan dari mereka ini bertanya : “Bagaimana saya dapat menemukan diri nyata saya?”, “Bagaimana saya dapat menjadi apa yang saya inginkan?”, “Bagaimana saya memahami apa yang saya yang ada di balik dinding saya dan menjadi diri sendiri?”

Oleh karena itu tujuan dari Client-Centered Therapy adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi pribadi yang  dapat berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan tersebut terapis perlu mengusahakan agar klien dapat menghilangkan topeng yang dikenakannya dan mengarahkannya menjadi dirinya sendiri. Fungsi lainnya juga membantu mengembangkan semaksimal mungkin feeling self-nya, sehingga lebih luas, memadai, dan sesuai dengan perasaan dan pengalaman-pengalaman organismiknya. Dengan demikian klien mampu mewujudkan suatu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Berikut beberapa sifat khas yang terdapat pada setiap pribadi yang berfungsi sepenuhnya, yaitu: (1) ketrbukaan pada pengalaman, (2) hidup secara eksistensial, (3) kepercayaan organismik, (4) adanya kebebasan, dan (5) kreatif.

Atkinson, D. R., Thompson, C. E., & Grant, S. K. (1993). A three dimensional model for counseling racial/ethnic minorities. The Counseling Psychologist. 21(2), 257-277.

Miftah. (2010). Terapi Psikis-Hunamistik. http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/psikoterapi-humanistik.html (diakses tanggal 23 maret 2013).

Sunardi, Permanarian & M. Assjari. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

Advertisements
 

Terapi Humanistik

Psikoterapi humanistik merupakan salah satu alihan dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akal pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertangahan. Pada akhir tahun 1950-an para ahli psikologi seperti: Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakos mendirikan sebuah asosiasi propesional yang berupaya mengakaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia seperti; Self (diri) aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat induvidualitas dan sejenisnya. Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai hasil atas aliran psikoanalisis dan behavioralisme, serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga” dalam aliran psikologi.
Dasar dari terapi Humanistik adalah penekanan pada adanya keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan pewujudan dirinya. Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri. Salah satu pedekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik ini adalah Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy, (yang akan dibahas pada post selanjutnya).
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humansistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dalam lingkungannya, secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menetukan pilihannya, nilai-nilai tanggungjawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
Tujuan
Terapi Humanistik bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terdapat tiga karakteristik daari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggungjawab untuk memilih. Kilen yang neurotik adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapai adalah membentuknya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiannya yang hilang.
Fungsi
Fungsi utama terapi adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam dunia. May (1961:81) memandang fungsi terapi diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaannya dalam dunia: “ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia.”
Sumber :
Corey, General. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
http://makalahkitasemua.blogspot.com/2009/11/teori-psikoterapi-humanistik.html#ixzz2OQ wFhZ5S
 
Leave a comment

Posted by on March 24, 2013 in Psikoterapi, Terapi Humanistik

 

Teori Psikoanalisa

Tokoh paling terkenal dari teori psikoanalisa ini adalah Sigmund Freud. Psikoanalisa dapat dipandang sebagai teori kepribadian ataupun metode psikoterapi. Sigmund Freud lahir tanggal 6 mei 1856 di morovia dan meninggal di london pada tanggal 23 september 1939. Sebagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengmbangkan tentang teori psrikoanalisisnya. Pada usia emopat puluhan ia banyak mengalami bermacam pengyakit mental, seperti rasa nyeri akan datangnya maut dan phiobi-phiobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.

sigmund_freud35082

Dasar-dasar teori psikoanalisa

  1. Dasar kepribadian seseorang diperoleh sejak masa kecil.
  2. Kejadian pada masa kecil/ lalu menjadi bagian dari ketidaksadaran.
  3. Gangguan jiwa terjadi akibat pertentangan antara id (dorongan instinktual) dan Superego (dorongan untuk mengikuti norma masyarakat).
  4. Pengalaman masa mendatang hanya pengulangan dari pengalaman masa lalu

Tujuan metode terapi psikoanalisa/psikoanalisis ini antara lain:

  1. Membentuk kembali struktur karakter individu dengan cara  membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien
  2. Fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak klien

Metode yang digunakn dalam terapi psikoanalisis/psikoanalisa

1. Asosiasi Bebas

Asosiasi Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Secara mendasar, tujuan teknik ini adalah untuk mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lampau. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai sementara terapis duduk di belakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas (Corey, 1995).

Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitandengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Katarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment (Corey, 1995).

2. Penafsiran (Interpretasi)

Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien (Corey, 1995).

3. Analisis Mimpi

Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpres akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhimya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda (Corey, 1995).

Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isimanifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik,dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis adalah mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung (Corey, 1995).

4. Resistensi

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagaipertahanan terhadap kecemasanyang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkatjika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut (Corey, 1995). Dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenamya menghambat  kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey, 1995).

5. Transferensi

Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikonalisis. Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih sayang pengganti. Seperti ketika seorang klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya (Chaplin, 1995).

Transferensi mengejawantah ketika dalam proses terapi ketika “urusan yang tidak selesai” (unfinished business) mas a lalu klien dengan orang-orang yang dianggap berpengaruh menyebabkan klien mendistorsi dan bereaksi terhadap terapis sebagaimana dia berekasi terhadap ayah/ibunya. Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan, objektivitas, keanoniman, dan kepasifan yang relatif. Dengan cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik atau deprivasi-deprivasinya, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini (Corey, 1995).

 

http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/terapi-psikis-psikoanalisa.html

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031-SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/TEORI_KONSELING.pdf

 

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2013 in Psikoterapi, Teori Psikoanalisa