RSS

Person Centered Therapy

31 Mar

Seperti yang telah dituliskan pada post sebelumnya, terdapat salah satu pedekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik yaitu Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy (dapat disebut juga dengan Person Centered Therapy). Client-Centered Therapy adalah terapi yang dikembangkan oleh Carl Rogers yang didasarkan kepada asumsi bahwa klien merupakan ahli yang paling baik bagi dirinya sendiri dan merupakan orang yang mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tugas terapis adalah adalah mempermudah proses pemecahan masalah mereka sendiri. Terapis juga tidak mengajukan pertanyaan menyelidik, membuat penafsiran, atau menganjurkan serangkaian tindakan. Istilah terapis dalam pendekatan ini kemudian lebih dikenal dengan istilah fasilitator (Atkinson dkk., 1993).

Untuk mencapai pemahaman klien terhadap permasalahan yang dihadapi, maka dalam diri terapis diperlukan beberapa persyaratan antara lain adalah: empati, rapport, dan ikhlas.

carl rogers

Empati adalah kemampuan memahami perasaan yang dapat mengungkapkan keadaan klien& kemampuan mengkomunikasikan pemahaman ini terhadap klien.

Terapi berusaha agar  masalah yang dihadapi klien dipandang dari sudut klien sendiri. Rapport adalah menerima klien dengan tulus sebagaimana adanya, termasuk pengakuan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk terlibat secara konstruktif dengan masalahnya. Ikhlas dalam arti sifat terbuka, jujur, dan tidak berpura-pura atau bertindak di balik topeng profesinya (Atkinson dkk.,1993).

Selain ketiga hal tersebut, di dalam proses konseling harus terdapat pula adanya jaminan bahwa masalah yang diungkapkan oleh klien dapat dijamin kerahasiaannya serta adanya kebebasan bagi klien untuk kembali lagi berkonsultasi atau tidak sarna sekali jika  klien sudah dapat memahami permasalahannya sendiri.

Menurut Rogers (dalam Corey, 1995), pertanyaan “Siapa Saya?” dapat menjadi penyebab kebanyakan seseorang datang ke terapis untuk psikoterapi. Kebanyakan dari mereka ini bertanya : “Bagaimana saya dapat menemukan diri nyata saya?”, “Bagaimana saya dapat menjadi apa yang saya inginkan?”, “Bagaimana saya memahami apa yang saya yang ada di balik dinding saya dan menjadi diri sendiri?”

Oleh karena itu tujuan dari Client-Centered Therapy adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi pribadi yang  dapat berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan tersebut terapis perlu mengusahakan agar klien dapat menghilangkan topeng yang dikenakannya dan mengarahkannya menjadi dirinya sendiri. Fungsi lainnya juga membantu mengembangkan semaksimal mungkin feeling self-nya, sehingga lebih luas, memadai, dan sesuai dengan perasaan dan pengalaman-pengalaman organismiknya. Dengan demikian klien mampu mewujudkan suatu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Berikut beberapa sifat khas yang terdapat pada setiap pribadi yang berfungsi sepenuhnya, yaitu: (1) ketrbukaan pada pengalaman, (2) hidup secara eksistensial, (3) kepercayaan organismik, (4) adanya kebebasan, dan (5) kreatif.

Atkinson, D. R., Thompson, C. E., & Grant, S. K. (1993). A three dimensional model for counseling racial/ethnic minorities. The Counseling Psychologist. 21(2), 257-277.

Miftah. (2010). Terapi Psikis-Hunamistik. http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/psikoterapi-humanistik.html (diakses tanggal 23 maret 2013).

Sunardi, Permanarian & M. Assjari. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: