RSS

Monthly Archives: April 2013

Behavioral Therapy

Terapi perilaku merupakan suatu bentuk terapi yang mengaplikasikan prinsip-prinsip dari kondisioning klasik dan kondisioning operant untuk membantu orang-orang dalam mengubah perilaku merusak diri sendiri atau perilaku problematis.

Terapi behavior dan pengubahan perilaku atau pendekatan behavioristik dalam psikoterepi adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang dewasa ini banyak dipergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi dalam arti luas atau konseling dalam arti sempitnya. Aliran ini pada mulanya tumbuh di Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni John Broadus Watson. Aliran ini memandang seseorang sebagai “seorang tumbuh menjadi seperti apa yang terbentuk oleh lingkungan”. Munculnya aliran ini berasal dari orientasi pemikiran Filsafat pada abad-abad yang lalu.

Didalam perkembangannya, terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk menggubah perilaku atai dalam arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi, menurut Corey ada tiga tahap:

  1. Tahap kondisioning klasik dimana perilaku baru  dihasilkan dari individu secara pasif.
  2. Tahap kondisioning aktif (operant)diaman perubahan-perubahan dilingkungan terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat (reinforcer) agar suatu perilaku bisa terus diperhatikan, sehingga kemungkinan perilaku tersebut akan diperhatika terus dan semakin diperkuat. Sebaliknya jika lingkungan tidak menghasilkan suatu penguat, harapan untuk memperlihatkan kembali perilakunya berkurang. Tokoh utama pada tahap kedua ini dalah Skinner.
  3. Tahap ketiga adalah atahap kognitif.

Tujuan terapi perilaku adalah menghilangkan tingkah laku yang tidak sesuai dan menggantikannya dengan perilaku yang sesuai. Pada dasarnya terapi perilaku merupakan proses penghapusan hasil belajar yang salah dengan memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang baru yang didalamnya mengandung respon-respon layak yang belum diperlajari. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk:

  1. Menghapus pola-pola perilaku yang tidak sesuai dan membantu mereka mempelajari pola-pola perilaku yang lebih konstruktif
  2. Mengubah tingkah laku maladaptif anak
  3. Menciptakan kondisi-kondisi baru yang memungkinkan terjadinya proses belajar ulang

Tujuan terapi perilaku hendaknya memperhatikan kriteria sebagai berikut (Krumboltz):

  1. Diinginkan oleh klien
  2. Harus ada keinginan dari konselor untuk membantu klien dalam mencapai tujuan
  3. Pencapaiannya dapat dinilai opleh klien

Behavior self-monitoring merupakan salah satu metode pada terapi perilaku untuk mencatat frekuensi dan konsekuensi dari perilaku yang ingin diubah.

Desensisasi sistematis merupakan proses bertahapdari desentisasiterhadap ketakutan klien pada suatu objek atau pengalaman, pada terapi perilaku desensitisasi sistematik didasarkan pada prosedur kondisioning klasik dalam melakukan counterconditioning.

Flooding pada terapi perilaku merupakan suatu bentuk terapi dimana klien dipertemukan dengan situasi yang membuatnya merasa panik, hingga rasa panik itu hilang.

Graduated exposure merupakan metose pada terapi perilaku dimana seseorang yang menderita duatu fobia atau serangan panik ditenangkan secara bertahap untuk menghadapi situasi yang ia takuti atau menghadapkannya pada ingatan trumatik, hingga ketakutannya hilang.

Wade, Carole & Travis, Carol. (2008). Psikologi. Jakarta: Erlangga.

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikotrapi. Jakarta: Gunung Mulya.

Sunardi, Permanarian & Assjari, M. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 29, 2013 in Behavioral Therapy, Psikoterapi

 

Rational Emotive Teraphy

Terapi perilaku rasional emotif merupakan suatu bentuk terapi kognitif yang dirancang untuk menentang pemikiran yang tidak realistis dari klien. Diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 september 1913 di Pittsburgh, Pennsylvania, yang kemudian dibesarkan di New York. Ellis adalah alumnus dari City University of New York dalam bidang Busines Administration dan setelah itu baru mengikuti pendidikan psikologi klinis pada tahun 1942 di Kolombia University dan memperoleh gelar doktornya pada tahun 1947. Sebelumnya ia menjadi pengarang dengan status bebas, dan banyak menulis buku maupun artikel, terutama mengenaik seksualitas, disamping pernah pula sebagai manajer personalia. Segera setelah menyelesaikan pendidikan doktornya, ia bekerja sebagai psikolog-klinis di New Jersey Departement of Institutions and Agencies di Trenton. Bersamaan dengan jabatan-jabatannya, Ellis mempunyai praktik pribadi yang dilakukan sejak tahun 1943, mengkhususkan diri pada psikoterapi dan konseling perkawinan. Ellis sendiri mengatakan bahwa dialah yang mempelopori seks terapi. Ia juga seorang psikoanalis, yang merasakan bahwa pendekatan psikoanalisis tidak efisien.

Terapi rasional emotif pertama kali disebut terapi rasional untuk menekankan aspek kognitif dan filosopik (RET) dari terapi ini, termasuk keyakinan Ellis bahwa jika seseorang mempertahankan  pandangan hidup yang waras mengenai kehidupan, gangguan emosional jarang terjadi. Kata emotif ditambahkan untuk menekankan komponen evokatif dan perilaku, untuk membedakan terapi ini dari terapi lainna yang pasif.

Menurut Ellis, terapi rasional emotif mendasarkan pada konsep bahwa berfikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya lebih menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang. Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah:

  1. Manusia mengkonsisikan diri sendiri terhadap munculnya perasaan yang mengganggu pribadinya.
  2. Kecenderungan biologisnya sama halnya dengan kecenderungan kultural untuk berfikir salah dan tidak ada gunanya, akibatnya mengecewakan diri sendiri.
  3. Kemanusiaannya yang unik untuk menemukan dan menciptakan keyakinan yang salah, yang mengganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya.
  4. Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah proses-proses kognitif, emosi dan perilaku, memungkinkan dapat:
    1. Memilih reaksi yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan.
    2. Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi.
    3. Melatih diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit mungkin sepanjang hidupnya.

Terapi rasional emotif ini mempergunakan pendekatan langsung untuk ‘menyerang’ dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasionaldan menggantinya dengan pikiran yang rasional dan logis. Agar dapat melakukan ini, terapis perlu mengetahui dunia pasien, mengetahui sikap dan perilakunya yang tidak rasional dan bagaimana pasien melihat hal-hal tersebut.

 

Wade, Carole dan Travis, Carol. (___). Psikologi. Erlangga: Jakarta.

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Gunung Mulya: Jakarta.

____. (1997). Buku Saku Psikiatri. Buku kedokteran EGC: Jakarta.

 
 

Analisis Transaksional

Salah satu pendekatan komunikasi untuk memperoleh hasil yang efektif telah dikembangkan oleh DR. Eric Berne (Mulianto, Cahyadi, dan Widjajakusuma, 2006), yang disebut Transactional Analysis (TA). Berne berkeyakinan melalui hasil penelitiannya bahwa hasil komunikasi sangat dipengaruhi oleh para perilaku komunikasi. Perilaku tersebut merupakan hasil dari sikap dan perasaan pada saat komunikasi berlangsung.

Eric Berne - Analisis Transaksional

Eric Berne lahir di Montreal, Canada. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya disana sebelum datang ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan spesialis psikiatri di Sekolah Kedokteran Universitas Yale. Ia kemudian pindah ke New York City, dimana pada tahun 1941 ia memulai pelatihan psikoalalitik di Institut Psikoanalitik New york dan menjadi warga Amerika Serikat. Selama Perang Dunia II ia menyelenggarakan pelayanan psikiatrik dengan Cuma-Cuma. Dari penyelenggaraannya lahir suatu makalah tentang intuisi (Berne dalam Roberts dan Greene, 2008) yang berisi sejumlah konsep yang kemudian digabungkan ke dalam teori analisis tarnsaksional.

Analisis Transaksional adalah suatu pendekatan psikoterapeutik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis (Cooper & Turner dalam, Roberts dan Greene, 2008). Analisis transaksional –gagasan Eric Berne (1910-1970)- merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh di antara manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri manusia dan lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri).

Metode analisis transaksional muncul sekitar pertengahan tahun 1950-an, dari pengakuan seorang pasien. Pasien yang adalah seorang pengacara itu berkomentar dalam sesi terapinya bahwa ia hanyalah seorang anak laki-laki kecil dari pada seorang pengacara yang matang. Pengertian ini mengarah pada analisis struktural dan tahap ego atau tahap mental anak dan dewasa (Naisaban, ___ ).

Transactional Analysis (TA) atau analisis transaksional berkembang dari anggapan bahwa setiap komunikasi antar manusia adalah suatu transaksi-transaksi antara manusia yang satu dan lainnya. Analisis transaksional menekankan dasar psikologis dalam komunikasi. Konsep ini menyatakan bahwa setiap individu dapat berbicara dari tiga eksistensi psikologis yang berbeda, yang dalam istilah TA disebut Ego State atau status ego. Ada tiga status ego, yaitu Status Ego Orang Tua (Parent Ego State), Status Ego Orang Dewasa (Adult Ego State), dan Status Ego Anak-anak (Child Ego State). Posisi status ego sangat mempengaruhi transaksi komunikasi yang dilakukan (Mulianto, Cahyadi, dan Widjajakusuma, 2006).

Tujuan Berne ialah untuk mengsintesiskan gagasan-gagasannya, dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat dipahami, sehingga klien dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengorganisasikan arah penanganannya sendiri. Pembuatan kontrak yang disepakati, “Apa yang ingin Anda capai bagi diri Anda sendiri dalam terapi ini?”, menyatukan klien dan terapis dalam suatu usaha bersama. Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi (coping) dan mengatur (regulatory) situasi yang paling dalam dan interaksi kehidupan nyata.

Mulianto, Sindu; Cahyadi, Eko Ruddy; dan Widjajakusuma, Muhammad Karebet. (2006). Superfisi Perspektif syariah. Gramedia: Jakarta.

Naisaban, Ladidlaus. (____). Para psikolog Terkemuka Dunia. Grasindo: Jakarta.

Roberts, Albert R dan Greene, Gilbert J. (2008). Buku Pinter Pekerja Sosial. Gunung Mulia: Jakarta.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2013 in Analisis Transaksional, Psikoterapi