RSS

Dampak Negatif Stimulasi Otak Tengah

03 Jan

Aktivasi otak tengah sangat marak di Indonesia ini. Dengan embel-embel anak menjadi lebih cerdas dan melakukan hal-hal yang dengan menutup matanya seperti, membaca, mengenali kartu, mengenali warna, bahkan bersepeda. Setiap orang tua pasti akan rela mengocek kantungnya agar anaknya pun dapat melakukan hal tersebut.

Namun disamping anak menjadi lebih cerdas, ada dampak negative dari aktivasi otak tengah. Dalam tulisannya, Lely Setyawati Kurniawan, seorang Psikiater dari Denpasar, Bali, menyebut kemampuan seperti yang dialami oleh anak-anak seperti diatas sebagai awareness, yakni suatu kondisi mental penuh kewaspadaan. Kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan kejiwaan, berupa gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid.

Kondisi awareness tersebut muncul setelah otak tengah anak-anak tersebut diaktivasi dengan cara memperdengarkan alunan musik klasik dan instrumentalia lainnya, gerakan-gerakan tubuh, menciptakan suasana tertentu, dan lain-lain, kemudian ditambah juga dengan program neuro-linguistik (NLP) yang disisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu keadaan extra sensory perception (ESP). yang diterapkan oleh lembaga penyedia latihan aktivasi otak tengah.

Namun perlu diketahui bahwa hingga hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa aktivasi otak tengah meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade-nya menjadi jenius.

Sebaliknya penelitian beberapa ahli sudah membuktikan secara ilmiah bahwa aktivasi otak tengah bisa memberikan dampak buruk bagi fungsi organ tubuh, seperti penelitian Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian otak tengah pada 24 ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi otak tengah di daerah periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan mengalami relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.

Begitu juga dengan penelitian Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa hal yang berubah karena aktivasi otak tengah, misalnya tekanan arteri utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan daerah bawah jantung (Inferior cardiac), persarafan simpatis dan denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun. Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa mencapai 328%.

Tulisan Hugo D. Critchley, Peter Taggart dkk. (2005) membuat kita lebih terperangah lagi, karena ternyata induksi lateralisasi pada aktifitasi otak tengah dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death). Penyebabnya adalah karena tidak seimbangnya dorongan simpatetik persyarafan jantung.

Di Indonesia seorang Guru besar dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Profesor Syaiful Sagala mengimbau masyarakat Sumatera Utara (Sumut) agar lebih berhati-hati mengikuti apa yang disebut sebagai program pemberdayaan otak tengah.

Program ini kini mulai menjamur di tengah masyarakat, khususnya di kalangan siswa sekolah. “Dalam dunia pendidikan sama sekali tidak dikenal adanya metode pemberdayaan otak tengah. Lagipula, itu katanya disebut dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa. Tidakadaitu,”tutur Syaiful Sagala. Sejauh ini metode pemberdayaan otak tengah belum teruji. Itulah yang menuntut kehati-hatian.”

Lagipula, yang saya ketahui otak tengah itu tidak ada dalam anatomi tubuh manusia,’’ papar profesor bidang pascasarjana itu. Dunia pendidikan hanya mengenal tiga metode yang biasa diterapkan, yakni konstruktifisme, efektifisme, dan humanis. Ketiga metode itu diterapkan melalui proses bertahap dan terus menerus, bukan seperti pemberdayaan otak tengah yang cenderung bersifat instan.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Batubara Surya Darma sependapat dengan Profesor Syaiful. Menurut dia, otak tengah itu tidak ada dalam ilmu pengetahuan medis. ’’Kalau ada yang bilang bahwa otak tengah itu ada, itu bohong. Sejauh saya jadi dokter dalam anatomi tubuh manusia, tidak ada otak tengah itu. Saya berani bilang itu tidak dapat dipertanggungjawabkan,” papar Surya Darma.

Sebenarnya ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh suatu lembaga yang memiliki metoda baru sebelum dilemparkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Minimal telah melalui 10 tahun percobaan di laboratorium (in vivo), setelah lulus uji klinis, barulah diujikan pada hewan-hewan percobaan dengan evaluasi sekitar 10 tahun. Pada tahap ketiga barulah diujikan pada para relawan (biasanya mereka dibayar) dan kembali dilakukan evaluasi. Dengan demikian dibutuhkan waktu sekitar 30 tahun untuk membawa suatu metode baru yang aman ke tengah masyarakat.

Dalam sebuah situs yang saya baca menuliskan bahwa Pelatihan ini sangat mirip dengan Metode Pelatihan Bronnikov (Bronnikovmethod) yang sudah berkembang di Rusia sekitar 5 tahun lalu. Dan kenyataannya Bronnikov terbukti merupakan penipuan berkedok science (Pseudo science).

Dalam situs itu dituliskan bahwa Metode Pelatihan Bronnikov telah dibongkar sebagai penipuan oleh James Randy yang merupakan seorang pesulap ernama yang akhirnya mendedikasikan dirinya untuk ilmu pengetahuan. Dia membongkar beberapa praktek penipuan spiritual, psikokinetik, dll. Dan informasi yang lebih lengkap dapat dilihat di alamat ini :

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&tl=id&u=http://www.randi.org/jr/022202.html

Sumber :

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17522

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4804278

http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/07/15/8205/hati-hati!aktivasi-otak-tengah-ternyata-bohong-dan-tidak-ilmiah/

 

Leave a comment