RSS

Logoterapi

Logoterapi merupakan sebuah alliran psikologi atau psikoatri modern yang menjadikan makna hidup sebagai tema sentralnya. Aliran ini dikembangkan oleh seorang dokter ahli neuro-psikiater keturunan Yahudi, Viktor Emile Frankl. Frankl yang pada awalnya merupakan pengikut freud dan Adler, membelot dari ajaran para seniornya tersebut. Hal disebabkan oleh pengalaman-pengalamannya dengan para pasien yang membuatnya sadar adanya perubahan sindroma repressed sex dan  sexuality frustated dari ajaran Freud menjadi repressed meaning dan  existensial frustated. Begitupun dengan ajaran Adler, dari feeling inferiority menjadi feeling of meaningless dan  emptyness. Berbagai perubahan para digma in, kemudian menurut Frankl memerlukan suatu pendekatan baru, yaitu logoterapi (Bastaman, 2007).

Ajaran logoterapi ini mulai dikembangkan oleh frankl pada tahun 1942, dimana ia bersama ribuan orang yahudi lainnya menjadi tawanan kamp konsenttrasi  maut Nazi di Auschwitz, dachau, Treblinka, dan Maidanek. Pengalaman penuh penderitaan pada kamp konsentrasi ini dijadikan Frankl sebagai ‘Laboratorium hidup’ untuk ajaran barunya tersebut.

Logoterapi berasal dari kata logos (Yunani), yang dapat diartikan sebagai arti dan semangat. Manusia butuh untuk mencari artikehidupan mereka dan logoterapi membantu kliennya dalam pencarian. Logoterapi terkadang disebut aliran ketiga dalam terapi psikis, aliran yang lainnya adalah analisis kejiwaan (Freud) dan psikologi individual (Adler). Mereka berbeda dalam analisis kejiwaan yang fokus pada tekad kesenangan, psikologi individual fokus pada tekad kekuatan dan logoterapi fokus pada tekad makna.

Berikut ini merupakan beberapa pandangan logoterapi terhadap manusia :

  1. Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
  2. Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
  3. Dengan adanya dimensi noetic ini manusiamampu melakukan self detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
  4. Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungansosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.

Dengan demikian, dalam pandangan logoterapi manusiaadalah istimewa yang memiliki berbagai kemampuan dan daya-daya istimewa pula. Sadar diri, kemampuan mengambil jarak dan transendensi diri menunjukan kemampuan manusia untuk melampaui dimensi ragawi (antara lainbawaan dan insting) dan pengaruh lingkungan serta mampu mengarahkan diri kepada hal-hal diluar dirinya seperti makna hidup dan orang-orang yang dikasihinya. Manusia pun menemukan makna hidup melalui apa yang diberikan kepada lingkungan, apa yang yang diambilnya dari lingkungan (menghayati keindahan dan cinta kasih ), serta sikap tepat atas kodisi tragis yang tak dapat dihindari (misalnya kematian).

Proses konseling pada umumnya mencakup tahap-tahap : perkenalan, pengungkapan dan penjajakan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan perilaku. Biasnya setelah masa konseling berakhir masih dilanjutkan pemantauan atas upaya perubahan perilaku dan klien dapan mlakukan konsultasi lanjutan jika diperlukan. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain.

Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:

  1. Tahap perkenalan dan pembinaan,rapport. Pada tahap inidiawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusanhati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.
  2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
  3. Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
  4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakupmodifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom

Bastaman, H. D. (2007). Logoterapi. Psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih hidup bermakna. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2013 in Logoterapi, Psikoterapi

 

Behavioral Therapy

Terapi perilaku merupakan suatu bentuk terapi yang mengaplikasikan prinsip-prinsip dari kondisioning klasik dan kondisioning operant untuk membantu orang-orang dalam mengubah perilaku merusak diri sendiri atau perilaku problematis.

Terapi behavior dan pengubahan perilaku atau pendekatan behavioristik dalam psikoterepi adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang dewasa ini banyak dipergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi dalam arti luas atau konseling dalam arti sempitnya. Aliran ini pada mulanya tumbuh di Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni John Broadus Watson. Aliran ini memandang seseorang sebagai “seorang tumbuh menjadi seperti apa yang terbentuk oleh lingkungan”. Munculnya aliran ini berasal dari orientasi pemikiran Filsafat pada abad-abad yang lalu.

Didalam perkembangannya, terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk menggubah perilaku atai dalam arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi, menurut Corey ada tiga tahap:

  1. Tahap kondisioning klasik dimana perilaku baru  dihasilkan dari individu secara pasif.
  2. Tahap kondisioning aktif (operant)diaman perubahan-perubahan dilingkungan terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat (reinforcer) agar suatu perilaku bisa terus diperhatikan, sehingga kemungkinan perilaku tersebut akan diperhatika terus dan semakin diperkuat. Sebaliknya jika lingkungan tidak menghasilkan suatu penguat, harapan untuk memperlihatkan kembali perilakunya berkurang. Tokoh utama pada tahap kedua ini dalah Skinner.
  3. Tahap ketiga adalah atahap kognitif.

Tujuan terapi perilaku adalah menghilangkan tingkah laku yang tidak sesuai dan menggantikannya dengan perilaku yang sesuai. Pada dasarnya terapi perilaku merupakan proses penghapusan hasil belajar yang salah dengan memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang baru yang didalamnya mengandung respon-respon layak yang belum diperlajari. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk:

  1. Menghapus pola-pola perilaku yang tidak sesuai dan membantu mereka mempelajari pola-pola perilaku yang lebih konstruktif
  2. Mengubah tingkah laku maladaptif anak
  3. Menciptakan kondisi-kondisi baru yang memungkinkan terjadinya proses belajar ulang

Tujuan terapi perilaku hendaknya memperhatikan kriteria sebagai berikut (Krumboltz):

  1. Diinginkan oleh klien
  2. Harus ada keinginan dari konselor untuk membantu klien dalam mencapai tujuan
  3. Pencapaiannya dapat dinilai opleh klien

Behavior self-monitoring merupakan salah satu metode pada terapi perilaku untuk mencatat frekuensi dan konsekuensi dari perilaku yang ingin diubah.

Desensisasi sistematis merupakan proses bertahapdari desentisasiterhadap ketakutan klien pada suatu objek atau pengalaman, pada terapi perilaku desensitisasi sistematik didasarkan pada prosedur kondisioning klasik dalam melakukan counterconditioning.

Flooding pada terapi perilaku merupakan suatu bentuk terapi dimana klien dipertemukan dengan situasi yang membuatnya merasa panik, hingga rasa panik itu hilang.

Graduated exposure merupakan metose pada terapi perilaku dimana seseorang yang menderita duatu fobia atau serangan panik ditenangkan secara bertahap untuk menghadapi situasi yang ia takuti atau menghadapkannya pada ingatan trumatik, hingga ketakutannya hilang.

Wade, Carole & Travis, Carol. (2008). Psikologi. Jakarta: Erlangga.

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikotrapi. Jakarta: Gunung Mulya.

Sunardi, Permanarian & Assjari, M. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

 
Leave a comment

Posted by on April 29, 2013 in Behavioral Therapy, Psikoterapi

 

Rational Emotive Teraphy

Terapi perilaku rasional emotif merupakan suatu bentuk terapi kognitif yang dirancang untuk menentang pemikiran yang tidak realistis dari klien. Diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 september 1913 di Pittsburgh, Pennsylvania, yang kemudian dibesarkan di New York. Ellis adalah alumnus dari City University of New York dalam bidang Busines Administration dan setelah itu baru mengikuti pendidikan psikologi klinis pada tahun 1942 di Kolombia University dan memperoleh gelar doktornya pada tahun 1947. Sebelumnya ia menjadi pengarang dengan status bebas, dan banyak menulis buku maupun artikel, terutama mengenaik seksualitas, disamping pernah pula sebagai manajer personalia. Segera setelah menyelesaikan pendidikan doktornya, ia bekerja sebagai psikolog-klinis di New Jersey Departement of Institutions and Agencies di Trenton. Bersamaan dengan jabatan-jabatannya, Ellis mempunyai praktik pribadi yang dilakukan sejak tahun 1943, mengkhususkan diri pada psikoterapi dan konseling perkawinan. Ellis sendiri mengatakan bahwa dialah yang mempelopori seks terapi. Ia juga seorang psikoanalis, yang merasakan bahwa pendekatan psikoanalisis tidak efisien.

Terapi rasional emotif pertama kali disebut terapi rasional untuk menekankan aspek kognitif dan filosopik (RET) dari terapi ini, termasuk keyakinan Ellis bahwa jika seseorang mempertahankan  pandangan hidup yang waras mengenai kehidupan, gangguan emosional jarang terjadi. Kata emotif ditambahkan untuk menekankan komponen evokatif dan perilaku, untuk membedakan terapi ini dari terapi lainna yang pasif.

Menurut Ellis, terapi rasional emotif mendasarkan pada konsep bahwa berfikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya lebih menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang. Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah:

  1. Manusia mengkonsisikan diri sendiri terhadap munculnya perasaan yang mengganggu pribadinya.
  2. Kecenderungan biologisnya sama halnya dengan kecenderungan kultural untuk berfikir salah dan tidak ada gunanya, akibatnya mengecewakan diri sendiri.
  3. Kemanusiaannya yang unik untuk menemukan dan menciptakan keyakinan yang salah, yang mengganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya.
  4. Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah proses-proses kognitif, emosi dan perilaku, memungkinkan dapat:
    1. Memilih reaksi yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan.
    2. Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi.
    3. Melatih diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit mungkin sepanjang hidupnya.

Terapi rasional emotif ini mempergunakan pendekatan langsung untuk ‘menyerang’ dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasionaldan menggantinya dengan pikiran yang rasional dan logis. Agar dapat melakukan ini, terapis perlu mengetahui dunia pasien, mengetahui sikap dan perilakunya yang tidak rasional dan bagaimana pasien melihat hal-hal tersebut.

 

Wade, Carole dan Travis, Carol. (___). Psikologi. Erlangga: Jakarta.

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Gunung Mulya: Jakarta.

____. (1997). Buku Saku Psikiatri. Buku kedokteran EGC: Jakarta.

 
 

Analisis Transaksional

Salah satu pendekatan komunikasi untuk memperoleh hasil yang efektif telah dikembangkan oleh DR. Eric Berne (Mulianto, Cahyadi, dan Widjajakusuma, 2006), yang disebut Transactional Analysis (TA). Berne berkeyakinan melalui hasil penelitiannya bahwa hasil komunikasi sangat dipengaruhi oleh para perilaku komunikasi. Perilaku tersebut merupakan hasil dari sikap dan perasaan pada saat komunikasi berlangsung.

Eric Berne - Analisis Transaksional

Eric Berne lahir di Montreal, Canada. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya disana sebelum datang ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan spesialis psikiatri di Sekolah Kedokteran Universitas Yale. Ia kemudian pindah ke New York City, dimana pada tahun 1941 ia memulai pelatihan psikoalalitik di Institut Psikoanalitik New york dan menjadi warga Amerika Serikat. Selama Perang Dunia II ia menyelenggarakan pelayanan psikiatrik dengan Cuma-Cuma. Dari penyelenggaraannya lahir suatu makalah tentang intuisi (Berne dalam Roberts dan Greene, 2008) yang berisi sejumlah konsep yang kemudian digabungkan ke dalam teori analisis tarnsaksional.

Analisis Transaksional adalah suatu pendekatan psikoterapeutik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis (Cooper & Turner dalam, Roberts dan Greene, 2008). Analisis transaksional –gagasan Eric Berne (1910-1970)- merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh di antara manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri manusia dan lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri).

Metode analisis transaksional muncul sekitar pertengahan tahun 1950-an, dari pengakuan seorang pasien. Pasien yang adalah seorang pengacara itu berkomentar dalam sesi terapinya bahwa ia hanyalah seorang anak laki-laki kecil dari pada seorang pengacara yang matang. Pengertian ini mengarah pada analisis struktural dan tahap ego atau tahap mental anak dan dewasa (Naisaban, ___ ).

Transactional Analysis (TA) atau analisis transaksional berkembang dari anggapan bahwa setiap komunikasi antar manusia adalah suatu transaksi-transaksi antara manusia yang satu dan lainnya. Analisis transaksional menekankan dasar psikologis dalam komunikasi. Konsep ini menyatakan bahwa setiap individu dapat berbicara dari tiga eksistensi psikologis yang berbeda, yang dalam istilah TA disebut Ego State atau status ego. Ada tiga status ego, yaitu Status Ego Orang Tua (Parent Ego State), Status Ego Orang Dewasa (Adult Ego State), dan Status Ego Anak-anak (Child Ego State). Posisi status ego sangat mempengaruhi transaksi komunikasi yang dilakukan (Mulianto, Cahyadi, dan Widjajakusuma, 2006).

Tujuan Berne ialah untuk mengsintesiskan gagasan-gagasannya, dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat dipahami, sehingga klien dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengorganisasikan arah penanganannya sendiri. Pembuatan kontrak yang disepakati, “Apa yang ingin Anda capai bagi diri Anda sendiri dalam terapi ini?”, menyatukan klien dan terapis dalam suatu usaha bersama. Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi (coping) dan mengatur (regulatory) situasi yang paling dalam dan interaksi kehidupan nyata.

Mulianto, Sindu; Cahyadi, Eko Ruddy; dan Widjajakusuma, Muhammad Karebet. (2006). Superfisi Perspektif syariah. Gramedia: Jakarta.

Naisaban, Ladidlaus. (____). Para psikolog Terkemuka Dunia. Grasindo: Jakarta.

Roberts, Albert R dan Greene, Gilbert J. (2008). Buku Pinter Pekerja Sosial. Gunung Mulia: Jakarta.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2013 in Analisis Transaksional, Psikoterapi

 

Person Centered Therapy

Seperti yang telah dituliskan pada post sebelumnya, terdapat salah satu pedekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik yaitu Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy (dapat disebut juga dengan Person Centered Therapy). Client-Centered Therapy adalah terapi yang dikembangkan oleh Carl Rogers yang didasarkan kepada asumsi bahwa klien merupakan ahli yang paling baik bagi dirinya sendiri dan merupakan orang yang mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tugas terapis adalah adalah mempermudah proses pemecahan masalah mereka sendiri. Terapis juga tidak mengajukan pertanyaan menyelidik, membuat penafsiran, atau menganjurkan serangkaian tindakan. Istilah terapis dalam pendekatan ini kemudian lebih dikenal dengan istilah fasilitator (Atkinson dkk., 1993).

Untuk mencapai pemahaman klien terhadap permasalahan yang dihadapi, maka dalam diri terapis diperlukan beberapa persyaratan antara lain adalah: empati, rapport, dan ikhlas.

carl rogers

Empati adalah kemampuan memahami perasaan yang dapat mengungkapkan keadaan klien& kemampuan mengkomunikasikan pemahaman ini terhadap klien.

Terapi berusaha agar  masalah yang dihadapi klien dipandang dari sudut klien sendiri. Rapport adalah menerima klien dengan tulus sebagaimana adanya, termasuk pengakuan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk terlibat secara konstruktif dengan masalahnya. Ikhlas dalam arti sifat terbuka, jujur, dan tidak berpura-pura atau bertindak di balik topeng profesinya (Atkinson dkk.,1993).

Selain ketiga hal tersebut, di dalam proses konseling harus terdapat pula adanya jaminan bahwa masalah yang diungkapkan oleh klien dapat dijamin kerahasiaannya serta adanya kebebasan bagi klien untuk kembali lagi berkonsultasi atau tidak sarna sekali jika  klien sudah dapat memahami permasalahannya sendiri.

Menurut Rogers (dalam Corey, 1995), pertanyaan “Siapa Saya?” dapat menjadi penyebab kebanyakan seseorang datang ke terapis untuk psikoterapi. Kebanyakan dari mereka ini bertanya : “Bagaimana saya dapat menemukan diri nyata saya?”, “Bagaimana saya dapat menjadi apa yang saya inginkan?”, “Bagaimana saya memahami apa yang saya yang ada di balik dinding saya dan menjadi diri sendiri?”

Oleh karena itu tujuan dari Client-Centered Therapy adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi pribadi yang  dapat berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan tersebut terapis perlu mengusahakan agar klien dapat menghilangkan topeng yang dikenakannya dan mengarahkannya menjadi dirinya sendiri. Fungsi lainnya juga membantu mengembangkan semaksimal mungkin feeling self-nya, sehingga lebih luas, memadai, dan sesuai dengan perasaan dan pengalaman-pengalaman organismiknya. Dengan demikian klien mampu mewujudkan suatu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Berikut beberapa sifat khas yang terdapat pada setiap pribadi yang berfungsi sepenuhnya, yaitu: (1) ketrbukaan pada pengalaman, (2) hidup secara eksistensial, (3) kepercayaan organismik, (4) adanya kebebasan, dan (5) kreatif.

Atkinson, D. R., Thompson, C. E., & Grant, S. K. (1993). A three dimensional model for counseling racial/ethnic minorities. The Counseling Psychologist. 21(2), 257-277.

Miftah. (2010). Terapi Psikis-Hunamistik. http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/psikoterapi-humanistik.html (diakses tanggal 23 maret 2013).

Sunardi, Permanarian & M. Assjari. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

 

Terapi Humanistik

Psikoterapi humanistik merupakan salah satu alihan dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akal pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertangahan. Pada akhir tahun 1950-an para ahli psikologi seperti: Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakos mendirikan sebuah asosiasi propesional yang berupaya mengakaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia seperti; Self (diri) aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat induvidualitas dan sejenisnya. Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai hasil atas aliran psikoanalisis dan behavioralisme, serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga” dalam aliran psikologi.
Dasar dari terapi Humanistik adalah penekanan pada adanya keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan pewujudan dirinya. Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri. Salah satu pedekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik ini adalah Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy, (yang akan dibahas pada post selanjutnya).
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humansistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dalam lingkungannya, secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menetukan pilihannya, nilai-nilai tanggungjawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
Tujuan
Terapi Humanistik bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terdapat tiga karakteristik daari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggungjawab untuk memilih. Kilen yang neurotik adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapai adalah membentuknya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiannya yang hilang.
Fungsi
Fungsi utama terapi adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam dunia. May (1961:81) memandang fungsi terapi diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaannya dalam dunia: “ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia.”
Sumber :
Corey, General. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
http://makalahkitasemua.blogspot.com/2009/11/teori-psikoterapi-humanistik.html#ixzz2OQ wFhZ5S
 
Leave a comment

Posted by on March 24, 2013 in Psikoterapi, Terapi Humanistik

 

Teori Psikoanalisa

Tokoh paling terkenal dari teori psikoanalisa ini adalah Sigmund Freud. Psikoanalisa dapat dipandang sebagai teori kepribadian ataupun metode psikoterapi. Sigmund Freud lahir tanggal 6 mei 1856 di morovia dan meninggal di london pada tanggal 23 september 1939. Sebagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengmbangkan tentang teori psrikoanalisisnya. Pada usia emopat puluhan ia banyak mengalami bermacam pengyakit mental, seperti rasa nyeri akan datangnya maut dan phiobi-phiobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.

sigmund_freud35082

Dasar-dasar teori psikoanalisa

  1. Dasar kepribadian seseorang diperoleh sejak masa kecil.
  2. Kejadian pada masa kecil/ lalu menjadi bagian dari ketidaksadaran.
  3. Gangguan jiwa terjadi akibat pertentangan antara id (dorongan instinktual) dan Superego (dorongan untuk mengikuti norma masyarakat).
  4. Pengalaman masa mendatang hanya pengulangan dari pengalaman masa lalu

Tujuan metode terapi psikoanalisa/psikoanalisis ini antara lain:

  1. Membentuk kembali struktur karakter individu dengan cara  membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien
  2. Fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak klien

Metode yang digunakn dalam terapi psikoanalisis/psikoanalisa

1. Asosiasi Bebas

Asosiasi Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Secara mendasar, tujuan teknik ini adalah untuk mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lampau. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai sementara terapis duduk di belakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas (Corey, 1995).

Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitandengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Katarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment (Corey, 1995).

2. Penafsiran (Interpretasi)

Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien (Corey, 1995).

3. Analisis Mimpi

Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpres akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhimya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda (Corey, 1995).

Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isimanifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik,dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis adalah mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung (Corey, 1995).

4. Resistensi

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagaipertahanan terhadap kecemasanyang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkatjika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut (Corey, 1995). Dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenamya menghambat  kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey, 1995).

5. Transferensi

Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikonalisis. Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih sayang pengganti. Seperti ketika seorang klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya (Chaplin, 1995).

Transferensi mengejawantah ketika dalam proses terapi ketika “urusan yang tidak selesai” (unfinished business) mas a lalu klien dengan orang-orang yang dianggap berpengaruh menyebabkan klien mendistorsi dan bereaksi terhadap terapis sebagaimana dia berekasi terhadap ayah/ibunya. Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan, objektivitas, keanoniman, dan kepasifan yang relatif. Dengan cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik atau deprivasi-deprivasinya, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini (Corey, 1995).

 

http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/terapi-psikis-psikoanalisa.html

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031-SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/TEORI_KONSELING.pdf

 

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2013 in Psikoterapi, Teori Psikoanalisa