RSS

Logoterapi

Logoterapi merupakan sebuah alliran psikologi atau psikoatri modern yang menjadikan makna hidup sebagai tema sentralnya. Aliran ini dikembangkan oleh seorang dokter ahli neuro-psikiater keturunan Yahudi, Viktor Emile Frankl. Frankl yang pada awalnya merupakan pengikut freud dan Adler, membelot dari ajaran para seniornya tersebut. Hal disebabkan oleh pengalaman-pengalamannya dengan para pasien yang membuatnya sadar adanya perubahan sindroma repressed sex dan  sexuality frustated dari ajaran Freud menjadi repressed meaning dan  existensial frustated. Begitupun dengan ajaran Adler, dari feeling inferiority menjadi feeling of meaningless dan  emptyness. Berbagai perubahan para digma in, kemudian menurut Frankl memerlukan suatu pendekatan baru, yaitu logoterapi (Bastaman, 2007).

Ajaran logoterapi ini mulai dikembangkan oleh frankl pada tahun 1942, dimana ia bersama ribuan orang yahudi lainnya menjadi tawanan kamp konsenttrasi  maut Nazi di Auschwitz, dachau, Treblinka, dan Maidanek. Pengalaman penuh penderitaan pada kamp konsentrasi ini dijadikan Frankl sebagai ‘Laboratorium hidup’ untuk ajaran barunya tersebut.

Logoterapi berasal dari kata logos (Yunani), yang dapat diartikan sebagai arti dan semangat. Manusia butuh untuk mencari artikehidupan mereka dan logoterapi membantu kliennya dalam pencarian. Logoterapi terkadang disebut aliran ketiga dalam terapi psikis, aliran yang lainnya adalah analisis kejiwaan (Freud) dan psikologi individual (Adler). Mereka berbeda dalam analisis kejiwaan yang fokus pada tekad kesenangan, psikologi individual fokus pada tekad kekuatan dan logoterapi fokus pada tekad makna.

Berikut ini merupakan beberapa pandangan logoterapi terhadap manusia :

  1. Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
  2. Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
  3. Dengan adanya dimensi noetic ini manusiamampu melakukan self detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
  4. Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungansosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.

Dengan demikian, dalam pandangan logoterapi manusiaadalah istimewa yang memiliki berbagai kemampuan dan daya-daya istimewa pula. Sadar diri, kemampuan mengambil jarak dan transendensi diri menunjukan kemampuan manusia untuk melampaui dimensi ragawi (antara lainbawaan dan insting) dan pengaruh lingkungan serta mampu mengarahkan diri kepada hal-hal diluar dirinya seperti makna hidup dan orang-orang yang dikasihinya. Manusia pun menemukan makna hidup melalui apa yang diberikan kepada lingkungan, apa yang yang diambilnya dari lingkungan (menghayati keindahan dan cinta kasih ), serta sikap tepat atas kodisi tragis yang tak dapat dihindari (misalnya kematian).

Proses konseling pada umumnya mencakup tahap-tahap : perkenalan, pengungkapan dan penjajakan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan perilaku. Biasnya setelah masa konseling berakhir masih dilanjutkan pemantauan atas upaya perubahan perilaku dan klien dapan mlakukan konsultasi lanjutan jika diperlukan. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain.

Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:

  1. Tahap perkenalan dan pembinaan,rapport. Pada tahap inidiawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusanhati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.
  2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
  3. Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
  4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakupmodifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom

Bastaman, H. D. (2007). Logoterapi. Psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih hidup bermakna. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2013 in Logoterapi, Psikoterapi

 

Behavioral Therapy

Terapi perilaku merupakan suatu bentuk terapi yang mengaplikasikan prinsip-prinsip dari kondisioning klasik dan kondisioning operant untuk membantu orang-orang dalam mengubah perilaku merusak diri sendiri atau perilaku problematis.

Terapi behavior dan pengubahan perilaku atau pendekatan behavioristik dalam psikoterepi adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang dewasa ini banyak dipergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi dalam arti luas atau konseling dalam arti sempitnya. Aliran ini pada mulanya tumbuh di Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni John Broadus Watson. Aliran ini memandang seseorang sebagai “seorang tumbuh menjadi seperti apa yang terbentuk oleh lingkungan”. Munculnya aliran ini berasal dari orientasi pemikiran Filsafat pada abad-abad yang lalu.

Didalam perkembangannya, terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk menggubah perilaku atai dalam arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi, menurut Corey ada tiga tahap:

  1. Tahap kondisioning klasik dimana perilaku baru  dihasilkan dari individu secara pasif.
  2. Tahap kondisioning aktif (operant)diaman perubahan-perubahan dilingkungan terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat (reinforcer) agar suatu perilaku bisa terus diperhatikan, sehingga kemungkinan perilaku tersebut akan diperhatika terus dan semakin diperkuat. Sebaliknya jika lingkungan tidak menghasilkan suatu penguat, harapan untuk memperlihatkan kembali perilakunya berkurang. Tokoh utama pada tahap kedua ini dalah Skinner.
  3. Tahap ketiga adalah atahap kognitif.

Tujuan terapi perilaku adalah menghilangkan tingkah laku yang tidak sesuai dan menggantikannya dengan perilaku yang sesuai. Pada dasarnya terapi perilaku merupakan proses penghapusan hasil belajar yang salah dengan memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang baru yang didalamnya mengandung respon-respon layak yang belum diperlajari. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk:

  1. Menghapus pola-pola perilaku yang tidak sesuai dan membantu mereka mempelajari pola-pola perilaku yang lebih konstruktif
  2. Mengubah tingkah laku maladaptif anak
  3. Menciptakan kondisi-kondisi baru yang memungkinkan terjadinya proses belajar ulang

Tujuan terapi perilaku hendaknya memperhatikan kriteria sebagai berikut (Krumboltz):

  1. Diinginkan oleh klien
  2. Harus ada keinginan dari konselor untuk membantu klien dalam mencapai tujuan
  3. Pencapaiannya dapat dinilai opleh klien

Behavior self-monitoring merupakan salah satu metode pada terapi perilaku untuk mencatat frekuensi dan konsekuensi dari perilaku yang ingin diubah.

Desensisasi sistematis merupakan proses bertahapdari desentisasiterhadap ketakutan klien pada suatu objek atau pengalaman, pada terapi perilaku desensitisasi sistematik didasarkan pada prosedur kondisioning klasik dalam melakukan counterconditioning.

Flooding pada terapi perilaku merupakan suatu bentuk terapi dimana klien dipertemukan dengan situasi yang membuatnya merasa panik, hingga rasa panik itu hilang.

Graduated exposure merupakan metose pada terapi perilaku dimana seseorang yang menderita duatu fobia atau serangan panik ditenangkan secara bertahap untuk menghadapi situasi yang ia takuti atau menghadapkannya pada ingatan trumatik, hingga ketakutannya hilang.

Wade, Carole & Travis, Carol. (2008). Psikologi. Jakarta: Erlangga.

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikotrapi. Jakarta: Gunung Mulya.

Sunardi, Permanarian & Assjari, M. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

 
Leave a comment

Posted by on April 29, 2013 in Behavioral Therapy, Psikoterapi

 

Rational Emotive Teraphy

Terapi perilaku rasional emotif merupakan suatu bentuk terapi kognitif yang dirancang untuk menentang pemikiran yang tidak realistis dari klien. Diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 september 1913 di Pittsburgh, Pennsylvania, yang kemudian dibesarkan di New York. Ellis adalah alumnus dari City University of New York dalam bidang Busines Administration dan setelah itu baru mengikuti pendidikan psikologi klinis pada tahun 1942 di Kolombia University dan memperoleh gelar doktornya pada tahun 1947. Sebelumnya ia menjadi pengarang dengan status bebas, dan banyak menulis buku maupun artikel, terutama mengenaik seksualitas, disamping pernah pula sebagai manajer personalia. Segera setelah menyelesaikan pendidikan doktornya, ia bekerja sebagai psikolog-klinis di New Jersey Departement of Institutions and Agencies di Trenton. Bersamaan dengan jabatan-jabatannya, Ellis mempunyai praktik pribadi yang dilakukan sejak tahun 1943, mengkhususkan diri pada psikoterapi dan konseling perkawinan. Ellis sendiri mengatakan bahwa dialah yang mempelopori seks terapi. Ia juga seorang psikoanalis, yang merasakan bahwa pendekatan psikoanalisis tidak efisien.

Terapi rasional emotif pertama kali disebut terapi rasional untuk menekankan aspek kognitif dan filosopik (RET) dari terapi ini, termasuk keyakinan Ellis bahwa jika seseorang mempertahankan  pandangan hidup yang waras mengenai kehidupan, gangguan emosional jarang terjadi. Kata emotif ditambahkan untuk menekankan komponen evokatif dan perilaku, untuk membedakan terapi ini dari terapi lainna yang pasif.

Menurut Ellis, terapi rasional emotif mendasarkan pada konsep bahwa berfikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya lebih menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang. Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah:

  1. Manusia mengkonsisikan diri sendiri terhadap munculnya perasaan yang mengganggu pribadinya.
  2. Kecenderungan biologisnya sama halnya dengan kecenderungan kultural untuk berfikir salah dan tidak ada gunanya, akibatnya mengecewakan diri sendiri.
  3. Kemanusiaannya yang unik untuk menemukan dan menciptakan keyakinan yang salah, yang mengganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya.
  4. Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah proses-proses kognitif, emosi dan perilaku, memungkinkan dapat:
    1. Memilih reaksi yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan.
    2. Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi.
    3. Melatih diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit mungkin sepanjang hidupnya.

Terapi rasional emotif ini mempergunakan pendekatan langsung untuk ‘menyerang’ dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasionaldan menggantinya dengan pikiran yang rasional dan logis. Agar dapat melakukan ini, terapis perlu mengetahui dunia pasien, mengetahui sikap dan perilakunya yang tidak rasional dan bagaimana pasien melihat hal-hal tersebut.

 

Wade, Carole dan Travis, Carol. (___). Psikologi. Erlangga: Jakarta.

Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Gunung Mulya: Jakarta.

____. (1997). Buku Saku Psikiatri. Buku kedokteran EGC: Jakarta.

 
 

Analisis Transaksional

Salah satu pendekatan komunikasi untuk memperoleh hasil yang efektif telah dikembangkan oleh DR. Eric Berne (Mulianto, Cahyadi, dan Widjajakusuma, 2006), yang disebut Transactional Analysis (TA). Berne berkeyakinan melalui hasil penelitiannya bahwa hasil komunikasi sangat dipengaruhi oleh para perilaku komunikasi. Perilaku tersebut merupakan hasil dari sikap dan perasaan pada saat komunikasi berlangsung.

Eric Berne - Analisis Transaksional

Eric Berne lahir di Montreal, Canada. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya disana sebelum datang ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan spesialis psikiatri di Sekolah Kedokteran Universitas Yale. Ia kemudian pindah ke New York City, dimana pada tahun 1941 ia memulai pelatihan psikoalalitik di Institut Psikoanalitik New york dan menjadi warga Amerika Serikat. Selama Perang Dunia II ia menyelenggarakan pelayanan psikiatrik dengan Cuma-Cuma. Dari penyelenggaraannya lahir suatu makalah tentang intuisi (Berne dalam Roberts dan Greene, 2008) yang berisi sejumlah konsep yang kemudian digabungkan ke dalam teori analisis tarnsaksional.

Analisis Transaksional adalah suatu pendekatan psikoterapeutik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis (Cooper & Turner dalam, Roberts dan Greene, 2008). Analisis transaksional –gagasan Eric Berne (1910-1970)- merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh di antara manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri manusia dan lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri).

Metode analisis transaksional muncul sekitar pertengahan tahun 1950-an, dari pengakuan seorang pasien. Pasien yang adalah seorang pengacara itu berkomentar dalam sesi terapinya bahwa ia hanyalah seorang anak laki-laki kecil dari pada seorang pengacara yang matang. Pengertian ini mengarah pada analisis struktural dan tahap ego atau tahap mental anak dan dewasa (Naisaban, ___ ).

Transactional Analysis (TA) atau analisis transaksional berkembang dari anggapan bahwa setiap komunikasi antar manusia adalah suatu transaksi-transaksi antara manusia yang satu dan lainnya. Analisis transaksional menekankan dasar psikologis dalam komunikasi. Konsep ini menyatakan bahwa setiap individu dapat berbicara dari tiga eksistensi psikologis yang berbeda, yang dalam istilah TA disebut Ego State atau status ego. Ada tiga status ego, yaitu Status Ego Orang Tua (Parent Ego State), Status Ego Orang Dewasa (Adult Ego State), dan Status Ego Anak-anak (Child Ego State). Posisi status ego sangat mempengaruhi transaksi komunikasi yang dilakukan (Mulianto, Cahyadi, dan Widjajakusuma, 2006).

Tujuan Berne ialah untuk mengsintesiskan gagasan-gagasannya, dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat dipahami, sehingga klien dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengorganisasikan arah penanganannya sendiri. Pembuatan kontrak yang disepakati, “Apa yang ingin Anda capai bagi diri Anda sendiri dalam terapi ini?”, menyatukan klien dan terapis dalam suatu usaha bersama. Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi (coping) dan mengatur (regulatory) situasi yang paling dalam dan interaksi kehidupan nyata.

Mulianto, Sindu; Cahyadi, Eko Ruddy; dan Widjajakusuma, Muhammad Karebet. (2006). Superfisi Perspektif syariah. Gramedia: Jakarta.

Naisaban, Ladidlaus. (____). Para psikolog Terkemuka Dunia. Grasindo: Jakarta.

Roberts, Albert R dan Greene, Gilbert J. (2008). Buku Pinter Pekerja Sosial. Gunung Mulia: Jakarta.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2013 in Analisis Transaksional, Psikoterapi

 

Person Centered Therapy

Seperti yang telah dituliskan pada post sebelumnya, terdapat salah satu pedekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik yaitu Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy (dapat disebut juga dengan Person Centered Therapy). Client-Centered Therapy adalah terapi yang dikembangkan oleh Carl Rogers yang didasarkan kepada asumsi bahwa klien merupakan ahli yang paling baik bagi dirinya sendiri dan merupakan orang yang mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tugas terapis adalah adalah mempermudah proses pemecahan masalah mereka sendiri. Terapis juga tidak mengajukan pertanyaan menyelidik, membuat penafsiran, atau menganjurkan serangkaian tindakan. Istilah terapis dalam pendekatan ini kemudian lebih dikenal dengan istilah fasilitator (Atkinson dkk., 1993).

Untuk mencapai pemahaman klien terhadap permasalahan yang dihadapi, maka dalam diri terapis diperlukan beberapa persyaratan antara lain adalah: empati, rapport, dan ikhlas.

carl rogers

Empati adalah kemampuan memahami perasaan yang dapat mengungkapkan keadaan klien& kemampuan mengkomunikasikan pemahaman ini terhadap klien.

Terapi berusaha agar  masalah yang dihadapi klien dipandang dari sudut klien sendiri. Rapport adalah menerima klien dengan tulus sebagaimana adanya, termasuk pengakuan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk terlibat secara konstruktif dengan masalahnya. Ikhlas dalam arti sifat terbuka, jujur, dan tidak berpura-pura atau bertindak di balik topeng profesinya (Atkinson dkk.,1993).

Selain ketiga hal tersebut, di dalam proses konseling harus terdapat pula adanya jaminan bahwa masalah yang diungkapkan oleh klien dapat dijamin kerahasiaannya serta adanya kebebasan bagi klien untuk kembali lagi berkonsultasi atau tidak sarna sekali jika  klien sudah dapat memahami permasalahannya sendiri.

Menurut Rogers (dalam Corey, 1995), pertanyaan “Siapa Saya?” dapat menjadi penyebab kebanyakan seseorang datang ke terapis untuk psikoterapi. Kebanyakan dari mereka ini bertanya : “Bagaimana saya dapat menemukan diri nyata saya?”, “Bagaimana saya dapat menjadi apa yang saya inginkan?”, “Bagaimana saya memahami apa yang saya yang ada di balik dinding saya dan menjadi diri sendiri?”

Oleh karena itu tujuan dari Client-Centered Therapy adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi pribadi yang  dapat berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan tersebut terapis perlu mengusahakan agar klien dapat menghilangkan topeng yang dikenakannya dan mengarahkannya menjadi dirinya sendiri. Fungsi lainnya juga membantu mengembangkan semaksimal mungkin feeling self-nya, sehingga lebih luas, memadai, dan sesuai dengan perasaan dan pengalaman-pengalaman organismiknya. Dengan demikian klien mampu mewujudkan suatu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Berikut beberapa sifat khas yang terdapat pada setiap pribadi yang berfungsi sepenuhnya, yaitu: (1) ketrbukaan pada pengalaman, (2) hidup secara eksistensial, (3) kepercayaan organismik, (4) adanya kebebasan, dan (5) kreatif.

Atkinson, D. R., Thompson, C. E., & Grant, S. K. (1993). A three dimensional model for counseling racial/ethnic minorities. The Counseling Psychologist. 21(2), 257-277.

Miftah. (2010). Terapi Psikis-Hunamistik. http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/psikoterapi-humanistik.html (diakses tanggal 23 maret 2013).

Sunardi, Permanarian & M. Assjari. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

 

Terapi Humanistik

Psikoterapi humanistik merupakan salah satu alihan dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akal pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertangahan. Pada akhir tahun 1950-an para ahli psikologi seperti: Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakos mendirikan sebuah asosiasi propesional yang berupaya mengakaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia seperti; Self (diri) aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat induvidualitas dan sejenisnya. Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai hasil atas aliran psikoanalisis dan behavioralisme, serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga” dalam aliran psikologi.
Dasar dari terapi Humanistik adalah penekanan pada adanya keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan pewujudan dirinya. Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri. Salah satu pedekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik ini adalah Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy, (yang akan dibahas pada post selanjutnya).
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humansistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dalam lingkungannya, secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menetukan pilihannya, nilai-nilai tanggungjawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
Tujuan
Terapi Humanistik bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terdapat tiga karakteristik daari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggungjawab untuk memilih. Kilen yang neurotik adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapai adalah membentuknya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiannya yang hilang.
Fungsi
Fungsi utama terapi adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam dunia. May (1961:81) memandang fungsi terapi diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaannya dalam dunia: “ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia.”
Sumber :
Corey, General. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
http://makalahkitasemua.blogspot.com/2009/11/teori-psikoterapi-humanistik.html#ixzz2OQ wFhZ5S
 
Leave a comment

Posted by on March 24, 2013 in Psikoterapi, Terapi Humanistik

 

Teori Psikoanalisa

Tokoh paling terkenal dari teori psikoanalisa ini adalah Sigmund Freud. Psikoanalisa dapat dipandang sebagai teori kepribadian ataupun metode psikoterapi. Sigmund Freud lahir tanggal 6 mei 1856 di morovia dan meninggal di london pada tanggal 23 september 1939. Sebagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengmbangkan tentang teori psrikoanalisisnya. Pada usia emopat puluhan ia banyak mengalami bermacam pengyakit mental, seperti rasa nyeri akan datangnya maut dan phiobi-phiobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.

sigmund_freud35082

Dasar-dasar teori psikoanalisa

  1. Dasar kepribadian seseorang diperoleh sejak masa kecil.
  2. Kejadian pada masa kecil/ lalu menjadi bagian dari ketidaksadaran.
  3. Gangguan jiwa terjadi akibat pertentangan antara id (dorongan instinktual) dan Superego (dorongan untuk mengikuti norma masyarakat).
  4. Pengalaman masa mendatang hanya pengulangan dari pengalaman masa lalu

Tujuan metode terapi psikoanalisa/psikoanalisis ini antara lain:

  1. Membentuk kembali struktur karakter individu dengan cara  membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien
  2. Fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak klien

Metode yang digunakn dalam terapi psikoanalisis/psikoanalisa

1. Asosiasi Bebas

Asosiasi Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Secara mendasar, tujuan teknik ini adalah untuk mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lampau. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai sementara terapis duduk di belakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas (Corey, 1995).

Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitandengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Katarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment (Corey, 1995).

2. Penafsiran (Interpretasi)

Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien (Corey, 1995).

3. Analisis Mimpi

Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpres akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhimya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda (Corey, 1995).

Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isimanifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik,dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis adalah mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung (Corey, 1995).

4. Resistensi

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagaipertahanan terhadap kecemasanyang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkatjika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut (Corey, 1995). Dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenamya menghambat  kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey, 1995).

5. Transferensi

Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikonalisis. Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih sayang pengganti. Seperti ketika seorang klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya (Chaplin, 1995).

Transferensi mengejawantah ketika dalam proses terapi ketika “urusan yang tidak selesai” (unfinished business) mas a lalu klien dengan orang-orang yang dianggap berpengaruh menyebabkan klien mendistorsi dan bereaksi terhadap terapis sebagaimana dia berekasi terhadap ayah/ibunya. Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan, objektivitas, keanoniman, dan kepasifan yang relatif. Dengan cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik atau deprivasi-deprivasinya, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini (Corey, 1995).

 

http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/terapi-psikis-psikoanalisa.html

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031-SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/TEORI_KONSELING.pdf

 

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2013 in Psikoterapi, Teori Psikoanalisa

 

Jurnal Psikologi Komputer

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES PSIKOLOGIS BERBASIS TIK

Oleh Siti Wuryan Indrawati

Pada penelitian Pengembangan instrumen Tes psikologis berbasis TIK dikatakan bahwa dalam bidang klinis tes psikologi dimanfaatkan untuk kepentingan diagnosis prognosis maupun terapi pada gangguan-gangguan pribadi. Adanya perkembangan teknologi dibidang kesehatan yaitu dibuatnya sebuah alat tes psikologi yang mengukur kemampuan umum (Inteligensi umum) yang diberi nama GTLC (Group Tes of Learning Capacity). Peneliti mengatakan ahwa sebenarnya tes ini bisa dikatakan belum matang untuk digunakan di Indonesia.

Persyaratan sebagai alat Tes Psikologi yang baik, harus dilakukan pengembangan Tes GTLC yang nantinya mampu mengukur kemampuan umum atau Inteligensi seseorang, dan layak sebagai tes psikologi berbasis TIK.

Dari data 160 sample penelitin hasil perhitungan reabilitas tes cukup reliabel yaitu 0,766 dari masing-masing kelas (4 kelas). Kelas pertama 0,249, kelas ke dua 0,658, kelas ke tiga 0,607, dan kelas ke empat 0,645. Penulis mengatakan bahwa hasil tersebut belum optimal disebabkan sampel penelitian yang kecil, akan lbih baik kalau samplenya besar untuk penelitian penembangan tes psikologi.

Pengaruh Loneliness Terhadap Internet Addiction Pada Individu Dewasa Awal Pengguna Internet

Oleh  Josetta M.R Tuapattinaja dan Nina Rahayu

            Penelitian tersebut dilakukan untuk melihat pengauh dari kesepian terhadap penggunaan internet berlebih pada dewasa awal. Individu dalam tahapan dewasa awal memiliki tugas perkembangan membentuk hubungan intim dengan orang lain. Sehingga kebutuhan akan intimasi merupakan unsur pokok dalam kepuasan suatu hubungan.

            Apabila individu dapat membentuk persahabatan yang sehat dan hubungan dekat yang intim dengan individu lain, maka intimsi telah tercapai. Tetapi jika individu tidak berhasil mengembangkan intimasinya maka individu tersebut mengalami isolasi dan merasakan loneliness.

            Individu yang mengalami loneliness cenderung menghabiskan banyak waktu online di internet dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian di depan komputer, baik di kantor maupun rumahnya. Individu tersebut menyediakan waktu yang lebih sedikituntuk hubungan tatap muka di dunia nyata dan mengurangi kesempatannya untuk berinteraksi dengan orang disekitarnya.

            Subjek penelitian adalah individu berusia diatas 18 tahun sebanyak 56 orang dengan metode pemilihan incidental sampling. Dalam hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh positif antara loneliness dengan internet addiction. Koefisien determinasi dari regresi menunjukka bahwa loneliness memberikan sumbangan efektif sebesar 12,8% terhadp internet addiction. Selebihnya, 87,2% internet addiction dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian tersebut.

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Word Of Mouth (WOM) dengan Intensi Membeli Makanan Vegetarian Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Dipenogoro

Oleh Dahniar Febriani, Endah Mujiasih, dan Unika Prihatsanti

Perkembangan ilmu pengetahuan tentang kesehatan membuat orang-orang semakin sadar untuk selalu menjaga kesehatan serta menjauhkan diri dari penyakit. Salah satu cara agar dapat memiliki hidup yang lebih sehat serta menjauhkan diri dari penyakit adalah dengan mengatur pola makan. Pola makan yang sehat biasanya dikaitkan dengan pola makan vegetarian. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap WOM dengan intensi membeli makanan vegetarian pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Intensi membeli makanan vegetarian merupakan kecenderungan yang mengarahkan seseorang untuk merencanakan pembelian makanan vegetarian. Persepsi terhadap WOM adalah penilaian terhadap pernyataan yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain nonkomersial baik merek, produk maupun jasa.

            Pada pembahasan ini diperoleh dari uji hipotesis dengan teknik analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan yang positif. dan signifikan antara persepsi terhadap word of mouth (WOM) dengan intensi membeli makanan vegetarian pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan bahwa terdapat hubungan positif antara persepsi terhadap WOM dengan intensi membeli makanan vegetarian pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.

            Hasil penelitian membuktikan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap intensi membeli makanan vegetarian pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro adalah adanya persepsi positif terhadap WOM yang dimiliki konsumen. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan Xiaofen dan Yiling (2009, h.24) yang mengungkapkan bahwa online WOM berpengaruh positif terhadap intensi konsumen dalam membeli. Kondisi tersebut menjelaskan WOM seringkali menjadi pertimbangan utama sebelum melakukan pembelian.

Peningkatan Minat dan Kemampuan Anak Usia Pra Sekolah untuk Belajar Membaca dan Menulis Permulaan Menggunakan Komputer Aided Learning

Oleh Susana Limanto

 

Anak terkadang pasti mendapat tugas dalam kemampuan membaca dan menulis saat sekolah dasar. Kemampuan tersebut dapat dilatih sejak usia empat atau lima tahun. Pada beberapa penenlitian, didapatkan bahwa anak tidak nyaman dengan cara belajar tradisional yang menggunakan kertas dan pena. Anak cenderung suka bermain dengan warna, gambar, suara, lagu dan mendengarkan dongeng. Computer Aided Learning memiliki game dengan gambar, suara, animasi dan kombinasi warna sehingga anak merasa merea bermain meskipun dalam proses belajar.

Berdasarkan permasalahan di atas disimpulkan bahwa yang menjadi kebutuhan pemakai adalah sistem yang dapat menyampaikan materi dengan cara yang menarik (melalui gambar, lagu, cerita dan suara) yang dapat membantu siswa belajar membaca dan menulis dengan lancar, menggunakan kata-kata yang sederhana,  sehingga anak tidak mengalami kesulitan pada saat harus merangkai beberapa huruf menjadi suku kata dan merangkai suku kata menjadi kata. Sistem harus mampu menyediakan fasilitas untuk menguji tingkat kemampuan siswa. Yang paling penting dari semuanya, sistem harus dibuat sedemikian rupa, sehingga anak tidak merasa bosan pada saat belajar membaca dan menulis.

Berdasarkan hasil penelitian perangkat ajar yang dibuat cukup membantu anak usia empat sampai lima tahun untuk belajar membaca dan menulis permulaan. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan sebesar 18,33%.

Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Komputer Dengan Pendekatan Chemo-Edutaiment Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa

Oleh Agung Tri Prasetya, Sigit Priatmoko, dan Miftakhudin

Pendekatan chemo-edutainment (CET) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran kimia yang mana di dalamnya dimasukkan unsur-unsur yang bersifat menghibur sehingga dalam belajar kimia siswa merasa senang. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan memasukkan kalimat-kalimat yang agak lucu, satire, ataupun dengan ilustrasi yang lucu tetapi tetap  memperhatikan aspek kimia yang sedang dibahas. Dengan penggunaan media komputer dalam pembelajaran CET tersebut dapat dimasukkan unsur musik dan juga animasi-animasi yang akan semakin menarik minat belajar siswa. Timbulnya rasa senang ini akan mendorong siswa untuk belajar kimia secara lebih mendalam (Priatmoko, 2007:3). Pada akhirnya diharapkan hasil belajar yang dicapai oleh siswa lebih meningkat dibanding sebelumnya.

Penggunaan media pembelajaran berbasis komputer dengan pendekatan Chemoedutainment (CET) merupakan salah satu alternatif proses pembelajaran kimia yang variatif dan mampu meningkatkan hasil belajar kimia siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh positif penggunaan media pembelajaran berbasis komputer dengan pendekatan CET terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XI SMA Negeri 16 Semarang dan dengan sample sebanyak 78 siswa yang terbagi dalam 2 kelas. Kelas XI–IA 1 sebagai kelompok eksperimen diberikan pembelajaran menggunakan media berbasis komputer dengan pendekatan CET dan kelas XI-IA 2 sebagai kelompok kontrol yang diberikan pembelajaran secara konvensional. Berdasarkan hasil analisis uji kesamaan dua rata-rata data hasil pre test, diketahui bahwa kedua kelompok berangkat dari kondisi awal yang sama. Hasil uji t data post test menunjukkan bahwa rata-rata hasil post test kelompok eksperimen lebih baik dibanding kelompok kontrol. Analisis pengaruh penggunaan media pembelajaran berbasis komputer dengan pendekatan CET menghasilkan koefisien korelasi biseri sebesar 0,676 dengan pengaruh positif terhadap hasil belajar sebesar 45,70%.

 
Leave a comment

Posted by on November 27, 2012 in Jurnal, Sistem Informasi Psikologi

 

Rancangan Sistem Pakar

Sistem pakar adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar. Pakar yang dimaksud disini adalah orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat selesaikan orang awam. Sebagai contoh, dokter adalah seorang pakar yang mampu mendiagnosis penyakit yang diderita pasien serta dapat memberikan penatalaksanaan terhadap penyakit tersebut.

Secara garis besar, banyak manfaat yang dapat diambil dengan adanya sistem pakar, antara lain

  • Membuat seorang yang awam bekerja seperti layaknya seorang pakar.
  • Meningkatkan produktivitas akibat meningkatnya kualitas hasil pekerjaan, meningkatnya kualitas pekerjaan ini disebabkan meningkatnya efisiensi kerja.
  • Menghemat waktu kerja.
  • Menyederhanakan pekerjaan.
  • Merupakan arsip terpercaya dari sebuah keahlian, sehingga bagi pemakai sistem pakar seolah-olah berkonsultasi langsung dengan sang pakar, meskipun mungkin sang pakar telah tiada.
  • Memperluas jangkauan, dari keahlian seorang pakar. Di mana sebuah sistem pakar yang telah disahkan, akan sama saja artinya dengan seorang pakar yang tersedia dalam jumlah besar (dapat diperbanyak dengan kemampuan yang persis sama), dapat diperoleh dan dipakai di mana saja.

Bagian-bagian yang secara umum ada pada struktur detail sistem pakar

  • Knowledge Aqcuisision System
    • Knowledge Base
    • Inference engine
    • User Interface
    • User
    • Workplace (Blackboard)
    • Explanation Subsystem
    • Knowledge refining system

Retardasi mental

Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembanganmental yang terhenti atau tidak lengkap, yng terutama ditandai oleh adanya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingakat intelegensi yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau ganguan fisik lainnya. Namun, penyandang retardasi mental dapat mengalami semua gangguan jiwa yang ada. Selain itu penyandang retardasi mental mempunyai resiko lebih besar dieksploitasi dan diperlakukan salah secara fisik atau seksual.

Retardasi mental adalah penurunan fungsi intelektual yang menyeluruh secara bermakna dan secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan bermanifestasi selama masa perkembangan. retardasi mental merupakan suatu kelainan mental seumur hidup, diperkirakan lebih dari retardasi mental merupakan masalah di bidang kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial dan pendidikan baik pada anak yang mengalami retardasi mental tersebut maupun keluarga dan masyarakat. Retardasi mental merupakan suatu keadaan penyimpangan tumbuh kembang seorang anak sedangkan peristiwa tumbuh kembang itu sendiri merupakan proses utama, hakiki, dan khas pada anak serta merupakan sesuatu yang terpenting pada anak tersebut. Terjadinya retardasi mental dapat disebabkan adanya gangguan pada fase pranatal, perinatal maupun postnatal.

Rick Heber (Sularyo & Kadim, 2000) mendefinisikan retardasi mentai debagai suatu penurunan fungsi intelektual secara menyeluruh yang terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial. Ada 3 hal penting yang merupakan kata kunci dalam definisi ini yaitu penurunan fungsi intelektual, adaptasi sosial, dan masa perkembangan. Penurunan fungsi intelektual secara umum menurut definisi Rick Heber diukur berdasarkan tes intelegensia standar paling sedikit satu deviasi standar (1 SD) di bawah rata-rata. Periode perkembangan mental menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai umur 16 tahun. Gangguan adaptasi sosial dalam definisi ini dihubungkan dengan adanya penurunan fungsi intelektual.

Menurut Grossman retardasi mental adalah penurunan fungsi intelektual yang menyeluruh secara bermakna dan secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan bermanifestasi selama masa perkembangan. Menurut definisi ini penurunan fungsi intelektual yang bermakna berarti pada pengukuran uji intelegensia berada pada dua deviasi standar di bawah rata-rata.

Retardasi mental ringan

Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dididik (educable). Anak mengalami gangguan berbahasa tetapi masih mampu menguasainya untuk keperluan bicara sehari-hari dan untuk wawancara klinik. Umumnya mereka juga mampu mengurus diri sendiri secara independen (makan, mencuci, memakai baju, mengontrol saluran cerna dan kandung kemih), meskipun tingkat perkembangannya sedikit lebih lambat dari ukuran normal. Kesulitan utama biasanya terlihat pada pekerjaan akademik sekolah, dan banyak yang bermasalah dalam membaca dan menulis. Dalam konteks sosiokultural yang memerlukan sedikit kemampuan akademik, mereka tidak ada masalah. Tetapi jika ternyata timbul masalah emosional dan sosial, akan terlihat bahwa mereka mengalami gangguan, misal tidak mampu menguasai masalah perkawinan atau mengasuh anak, atau kesulitan menyesuaikan diri dengan tradisi budaya.

Retardasi mental sedang

Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dilatih (trainable). Pada kelompok ini anak mengalami keterlambatan perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa, serta pencapaian akhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan mengurus diri sendiri dan ketrampilan motor juga mengalami keterlambatan, dan beberapa diantaranya membutuhkan pengawasan sepanjang hidupnya. Kemajuan di sekolah terbatas, sebagian masih bisa belajar dasar-dasar membaca, menulis dan berhitung.

Retardasi mental berat

Kelompok retardasi mental berat ini hampir sama dengan retardasi mental sedang dalam hal gambaran klinis, penyebab organik, dan keadaan-keadaan yang terkait. Perbedaan utama adalah pada retardasi mental berat ini biasanya mengalami kerusakan motor yang bermakna atau adanya defisit neurologis.

Retardasi mental sangat berat

Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anak sangat terbatas kemampuannya dalam  mengerti dan menuruti permintaan atau instruksi. Umumnya anak sangat terbatas dalam hal mobilitas, dan hanya mampu pada bentuk komunikasi nonverbal yang sangat elementer.

Faktor penyebab retardasi mental antara lain

  • Faktor genetik

Kelainan kromosom autosomal adalah berhubungan dengan retardasi mental. Selain kromosom mungkin tedapat dalam jumlah atau dalam bentuknya.

–          Kelainan dalam jumlah kromosom, antara lain terdapat pada Sindrome Down atau Langton-Down ata mongolisme (trisomi otosomal atau trisomi kromosom 21).

–          Kelainan dalam bentuk kromosom, “Chi du chat” : tidak terdapat cabang pendek pada kromosom 5.

  • Faktor pranatal

Diperlukan dalam perkembangan janin, meliputi kesehatan fisik, psikologis, dan nutrisi maternal selama kehamilan. Penyakit dan kondisi kronis maternal yang mempengaruhi perkembangan normal sistem saraf pusat janin adalah diabetes yang tidak terkendali, anemia, emfisema, hipertensi, dan pemakian jangka panjang alkohol dan zat narkotik. Infeksi maternal selama kehamilan, terutama inveksi virus yang telah diketahui menyebabkan kerusakan janin dan retardasi mental. Derajat kerusakan janin tergantung pada variabel tertentu seperti jenis infeksi virus, usia kehamilan janin, dan keparahan penyakit (Kaplan & Sandock dalam Putri, 2011).

  • Faktor perinatal

Bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah berada dalam resiko tinggi mengalami gangguan neurologis dan intelektual yang bernaifestasi selama bertahun-tahun sekolahnya. Derajat gangguna saraf biasanya berhubungan dengan beratnya pendarahan intracranial atau tanda-tanda iskemia serebral. Selain itu trauma sebelum lahir, seperti sinar-X, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat megakibatkan kelainan dengan retardasi mental. Pada waktu lahir kepala dapat mengalami tekanan sehingga timbulpendarahan di dalam otak. Mungkin juga terjadi kekurangan O2 (asfiksia neonatorum) yang terjadi pada 1/5 dari semua kelahiran. Hal ini dapat terjadi kaena aspirasi lender, aspirasi liquor amnii, anesthesia ibu dan prematuritas. Bila kekuranga zat asam berlangsung terlalu lama maka akan terjadi degenerasi sel-sel korteks yang kelak mengakibatkan retardasi mental.

  • Gangguan didapat pada masa anak-anak

–          Infeksi, yang paling serius mempengaruhi integritas serebral adalah ensefalitis dan meningitis. Ensefalitis campak telah hampir dihilangakan oleh pemakaian vaksin campak di selruh dunia, dan insiden infeksi bakterial pada sistem saraf pusat telah diturunkan dengan nyata oleh obat anti bakterial. Sebagian besar episode ensefalitas disebabkan oleh organisme virus. Meningitis yang diidagnosis lambat, dapat secara serius mempengaruhi perkembangan kognitif anak.

–          Trauma kepala, dapat menjadi penyebab kecatatan mental pada anak, misalnya akibat kecelakaan di rumah (seperti terjatuh dari meja, jendela terbuka atau dari tangga) dan kecelakaan kendaraan bermotor. Selain itu, penyiksaan pada anak juga dapat menjadi suatu penyeban cedera kepala.

–          Masalah lain, misalnya pemaparan zat kimia, tumor intrakranial, pembedahan, dan kemoterapi juga dapat merugikan fungsi otak.

  • Faktor lingkungan dan sosiokultural

Retardasi mental dapat disebabkan oleh faktor-faktor biomedis ataupunsosiobudaya (yang berhubungan dengan deprivasi psikososial dan penyesuaian diri)

–          Retardasi mental akibat cultural-familial, apabila didapatkan retardasi mental palig sedikit pada salah seorang dari orang tua penerita dan pada seorang atau lebih sudaranya. Selain itu anak-anak dalam keluarga dengan ekonomi dan pendidikan rendah dapat mempengaruhi perkembangan anak.

–          Retardasi mental akibat lingkungan, timbul karena kurangnya rangsangan dari lingkungan, antara lain rangsangan sensorik. Terlalu kurangnya komunikasi verbal mengakibatka kesukaran mengutarakan isi pikiran dalam kata-kata dan penalaran konkret serta menghambat perkembangan pemikiran abstrak pada anak.

Klasifikasi berdasarkan skor IQ dari tes Binet dan Wechsler

Klasifikasi IQ skala Binet

(SD = 15)

IQ skala Wechsler

(SD = 16)

Ciri-ciri
Ringan (mild) 68 – 52 69-55
  • Dapat diajar membaca, menulis dan berkomunikasi
  • Dapat merawat dirinya dan melakukan pekerjaan rumah
  • Tidak dapat didik di sekolah biasa tetapi harus di lembaga istimewa atau SLB
  • Tidak dapat berfikir secara abstrak, hanya hal-hal konkret yang dapat dipahami
  • Koordinasi motorik tidak mengalami gangguan
  • Kurang dapat membedakan hal baik dan buruk
  • Perkembangan fisiknya normal tapi perkembangan bicaranya masih lambat.
  • Tidak didapat kelainan kongenital
Sedang (moderate) 51-36 54-40
  • Dapat dilatih merawat dirinya sendiri
  • Mengenal bahaya dan dapat menyelamatkan diri sendiri
  • Koordinasi motorik biasanya masih sedikit terganggu
  • Biasanya masih didapat kelainan kongenital
  • Dapat dilatih pekerjaan sederhana dan rutin
  • Dapat menghitung 1-20 dan membaca beberapa suku kata dan mengetahui macam-macam warna
  • Perkembangan fisik dan berbicara masih lambat
  • Penilaian terhadap baik dna buruk masih kurang
Berat (severe) 35-20 39-25
  • Dapat dilatih merawat dirinya sendiri
  • Mudah terserang penyakit
  • Didapatkan kelainan kongenital
  • Kuku dan spastis
  • Gerakan motorik terganggu
  • Perkembangan fisik dan berbicara terlambat
Sangat berat (profound) <19 <24
  • Tidak dapat merawat dirinya sendiri
  • Tidak mengenal bahaya
  • Gerakan motorik terganggu, kuku dan spatis
  • Didapati kelainan kongenital
  • Perkembangan fisik dan berbicara terlambat
  • Mudah terserang penyakit
  • Sering tak dapat bicara, bicara hanya satu suku kata saja (pa, ma)

Diagnosis

Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas tes intelegensia saja, melainkan juga dari riwayat penyakit, laporan dari orangtua, laporan dari sekolah, pemeriksaan fisis, laboratorium, pemeriksaan penunjang. Yang perlu dinilai tidak hanya intelegensia saja melainkan juga adaptasi sosialnya. Dari anamnesis dapat diketahui beberapa faktor risiko terjadinya retardasi mental.

Pemeriksaan fisis pada anak retardasi mental biasanya lebih sulit dibandingkan pada anak normal, karena anak retardasi mental kurang kooperatif. Selain pemeriksaan fisis secara umum (adanya tanda-tanda dismorfik dari sindrom-sindrom tertentu) perlu dilakukan pemeriksaan neurologis, serta penilaian tingkat perkembangan. Pada anak yang berumur diatas 3 tahun dilakukan tes intelegensia.

Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala dapat membantu menilai adanya kalsifikasi serebral, perdarahan intra kranial pada bayi dengan ubun-ubun masih terbuka. Pemeriksaan laboratorium dilakukan atas indikasi, pemeriksaan ferriklorida dan asam amino urine dapat dilakukan sebagai screening PKU.

Pemeriksaan analisis kromosom dilakukan bila dicurigai adanya kelainan kromosom yang mendasari retardasi mental tersebut. Beberapa pemeriksaan penunjang lain dapat dilakukan untuk membantu seperti pemeriksaan BERA, CT-Scan, dan MRI.

Kesulitan yang dihadapi adalah kalau penderita masih dibawah umur 2-3 tahun, karena kebanyakan tes psikologis ditujukan pada anak yang lebih besar. Pada bayi dapat dinilai perkembangan motorik halus maupun kasar, serta perkembangan bicara dan bahasa. Biasanya penderita retardasi mental juga mengalami keterlambatan motor dan bahasa.

Kriteria diagnosis retardasi mental (Kaplan & Sandock dalam Putri, 2011)

  • Fungsi intelektual yang secara bermakna dibawah rata-rata : IQ kira-kira 70 atau kurang pada tes IQ yang dilakukan secara individual.
  • Adanya defisit atau gangguan yang menyertai dalam fungsi adaptif pada sekurang-kurangnya dua bidang keterampilan komunikasi, merawat diri, keterampilan sosial atau interpersonal, menggunakan sarana masyarakat, mengarahkan diri sendiri, keterampilan akademik fungsional, pekerjaan, liburan, kesehatan dan keamanan.
  • Onset sebelum usia 18 tahun

Pengobatan

  • Occupasional therapy (terapi gerak)

Terapi ini diberikan kepada anak retardasi mental untuk melatih gerak fungsional anggota tubuh (gerak kasar dan halus).

  • Play therapy (terapi bermain)

Terapi yang diberikan pada anak retardsi mental dengan cara bermain, misalnya memberikan pelajaran tentang hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.

  • Activity daily Living (ADL) atau kemampuaan merawat diri

Untuk memandirikan anak retardasi mental, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendiri tanpa bantuan rng lain dan tidak tergantung kepada orang lain.

  • Life skill (keterampilan hidup)

Nanak yang memerlukan layanan khusus, terutama anak dengan IQ di bawah rata-rata biasanya tidak diharapkan bekerja sebagai administrator, bagi anak retardasi mental yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan untuk dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, unutk bekal hidup mereka diberikan pendidikan keterampilan. Mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.

  • Vocational Therapy (terapi bekerja)

Selain diberikan latihan keterampilan. Anak retardasi mental juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang telah dimilikinya, anak retardasi mental diharapkan dapat bekerja.

Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja, melainkan juga pada orang tuanya. Mengapa demikian? Siapapun orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental, apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat. Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling. Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu. Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesis dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan, persalinan, dan pertumbuhan serta perkembangan anak. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.

  • Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental

–          Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan sebaik-baiknya.

–          Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah.

–          Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang, sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang.

Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi mental mudah terinterupsi. Untuk mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera.

  • Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental

Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi mental, yaitu:Latihan di rumah:

–          belajar makan sendiri, membersihkan badan dan berpakaian sendiri, dst.

–          Latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap sosial.

–          Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin penderita.

–          Latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal yang baik dan buruk secara moral

Berikut ini rancangan sistem pakar untuk penyakit mental retardation

Davison, Neale & Kring. (2010). Psikologi abnormal. Jakarta:Rajagrafindo Persada.

Dewi, N. A. (2010). Hubungan self esteem dan sikap penerimaan orang tua yang memiliki anak tunagrahita. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Juliana. (2009). Perancangan sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit ayam menggunakan PHP. Skripsi. Depok: Universitas Gunadarma.

Kuntjojo. (2009). Psikologi abnormal. Kediri : Universitas Nusantara PGRI.

Kusrini. Aplikasi sistem pakar. (2008). Pengantar sistem pakar. Bab 1 pengenalan sistem pakar.

_____. (1993). Pedoman golongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta: world health organization.

Maramis, W. F. (1994). Retardasi Mental dalam Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Universitas  Airlangga.

Putri, P. P. (2011). Hubungan antara usia dan prestasi belajar dengan gerak motorik halus pada retardasi mental di SLB Abdi Pratama Jakarta Timur. Skripsi. Jakarta: Universias Pembangunan Nasional.

_____. (2011). Retardasi mental. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&amp; source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CB8QFjAA&url=http%3A%2F%2Fjudzrun-children.googlecode.com%2Ffiles%2FRetardasi%2520Mental.pdf&ei=ycmWUP2BCsq3rAfOgIGoDQ&usg=AFQjCNEmo9v15yE_n_tDYq5tn0wIHJmYOw

Retnaningtias, A & Styaningsih, R. (2012). Perilaku seksual remaja retardasi mental. Proyeksi, Vol.4 (2).

Semium, Y. (2006). Kesehatan mental 2. Yogyakarta: Kanisius.

Sularyo, T.S., & Kadim, M. (2000). Retardasi mental. Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3.

 

Artificial Intelligence

Artificial intelligence (AI) adalah suatu proses yang menggunakan peralatan bantu (tools) secara mekanik dapat melaksanakan serangkaian kejadian dengan menggunakan pemikiran atau kecerdasan seperti yang dimiliki oleh manusia.

Kecerdasan tiruan(Artificial Intelligence) adalah sub bagian dari ilmu komputer yang merupakan suatu teknik perangkat lunak yang pemrogramannya dengan cara menyatakan data, pemrosesan data dan penyelesaian masalah secara simbolik, dari pada secara numerik.

Masalah-masalah dalam bentuk simbolik ini adalah masalah-masalah yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Masalah-masalah ini lebih berhubungan dengan simbol dan konsep simbol dari pada dengan angka-angka. Di sini dengan kecerdasan tiruan diusahakan untuk membuat komputer seakan dapat berpikir secara cerdas.

Pengertian lain menyebutkan bahwa kecerdasan buatan adalah salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia bahkan bisa lebih baik daripada yang dilakukan manusia.

 Menurut John McCarthy, 1956, AI adalah untuk mengetahui dan memodelkan proses-proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan perilaku manusia. Cerdas adalah memiliki pengetahuan dan pengalaman, penalaran yaitu bagaimana membuat keputusan dan mengambil tindakan, serta moral yang baik. Agar mesin bisa cerdas atau bertindak seperti dan sebaik manusia, maka harus diberi bekal pengetahuan dan mempunyai kemampuan untuk menalar.

Sedangkan Kristanto menyatakan bahwa kecerdasan buatan adalah bagian dari ilmu pengetahuan komputer yang khusus ditujukan dalam perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam sistem kecerdasan komputer. Sistem memperlihatkan sifat-sifat khas yang dihubungkan dengan kecerdasan dalam kelakuan yang sepenuhnya bisa menirukan beberapa fungsi otak manusia, seperti pengertian bahasa, pengetahuan, pemikiran, pemecahan masalah dan sebagainya.

Sejarah AI

Awalnya adalah berpusat pada permainan – game playing, pembuktian teorema dan

beberapa kerjaan formal (formal tasks)

• checker program – yang terkenal diantaranya oleh samual 1963

• Chess program

• Geometry Theorem Provers -pembuktian torema matematika

• Gelernter (1963)

• Logic Theorist (1963)

Pada tahun1950-an para ilmuwan dan peneliti mulai memikirkan bagaimana caranya agar mesin dapat melakukan pekerjaannya seperti yang bisa dikerjakan oleh manusia. Alan Turing, seorang matematikawan Inggris, pertama kali mengusulkan adanya tes untuk melihat bisa tidaknya sebuah mesin dikatakan cerdas. Hasil tes tersebut kemudian dikenal dengan Turing Test, dimana mesin tersebut menyamar seolah-olah sebagai seseorang didalam suatu permainan yang mampu memberikan respon terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan. Turing beranggapan bahwa, jika mesin dapat membuat seseorang percaya bahwa dirinya mampu berkomunikasi dengan orang lain, maka dapat dikatakan bahwa mesin tersebut cerdas (seperti layaknya manusia).

Lalu pada tahun 1956, diselenggarakan pertemuan di Dartmouth College, yang dihadiri oleh marvin Minsky dan John McCarthy dari Dartmouth, Nathael Rochester dari IBM, dan Claude Shannon dari Bell Laboratories. Pada pertemuan ini mereka berhasil menemukan istilah artificial intelligence, dan mereka menamakan program komputer AI yang pertama dengan Logic Theorist.

Logic Theorist adalah produk hasil kerja yang beberpa tahun sebelumnya telah diterapkan di Carnegie institute of Thecnology (sekarang namanya Carnegie-Mellon University) oleh Herbert Simon dan Alan Newell. Simon dan Newell telah meneliti kemampuan penalaran sistem tersebut, dan pada tahun 1956 J.C. Shaw dari Rand Corporation bergabung. Hasilnya adalah Logic Theorist. Kemampuannya yang dapat membuktikan dalil kalkulus meningkatkan minat para peneliti untuk mengembangkan program yang disebut General Problem Solver (GPS) yang digunakan untuk pemecahan masalah segala sesuatu. Kemampuannya itu ternyata mempunyai peluang yang begitu besar.

Peneliti AI terus melakukan penelitiannya, namun pelaksanaannya tidak memokokkan pada aplikasi komputer, seperti SIM dan DSS. Namun, selama beberapa tahun, penelitian yang masih konsisten tetap menekankan pada penggunaan komputer untuk memperoleh intelligensi manusia.

Beberapa program AI yang mulai dibuat pada tahun 1956-1966, antara lain :

  • Logic Theorist, diperkenalkan pada Dartmouth Conference, program ini dapat membuktikan teorema-teorema matematika.
  • Sad Sam, diprogram oleh Robert K. Lindsay (1960). Program ini dapat mengetahui kalimat-kalimat sederhana yang ditulis dalam bahasa Inggris dan mampu memberikan jawaban dari fakta-fakta yang didengar dalam sebuah percakapan.
  • ELIZA, diprogram oleh Joseph Weinzenbaum (1967). Program ini mampu melakukan terapi terhadap pasien dengan memberikan beberapa pertanyaan.
  • Samual(1963) menulis sebuah program yang diberi nama check-er-playing program, yang tidak hanya untuk bermain game, tetapi digunakan juga pengalamannya pada permainan untuk mendukung kemampuan sebelumnya.

Kerja kecerdasan manusia

Intelegensi merupakan kemampuan mental yang malibatkan proses berfikir dan memecahkan simbol-simbol tertentu.

Intelegensi dapat dilihat dari perspektif

  • Evolutionary perspective, intelegensi adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah yang behubungan dengan adaptasi
  • Behavior perspective intellegensi adalah suatu kapasitas untuk mencapai tujuan adaptif dalam perilaku
  • Cognitive perspective, intelegensi adalah suatu proses nalar yang diterapkan untuk memechkan masalah atau mencapai tujuan.

Karena kecerdasan tiruan adalah ilmu yang berdasarkan proses manusia berpikir, maka penelitian bagaimana proses manusia berpikir adalah hal yang pokok.

Pada saat ini para peneliti hanya mulai mengerti sedikit dari proses berpikir tersebut, tetapi sudah cukup diketahui untuk membuat asumsi-asumsi yang pasti tentang bagaimana cara berpikir dan menggunakan asumsi-asumsi tersebut untuk mendesain suatu pro-gram komputer yang mempunyai kecerdasan secara tiruan.

Semua proses berpikir menolong manusia untuk menyelesaikan sesuatu masalah. Pada saat otak manusia mendapat informasi dari luar, maka suatu proses berpikir memberikan petunjuk tindakan atau respon apa yang dilakukan. Hal ini merupakan suatu reaksi otomatis dan respon yang spesifik dicari untuk menyelesaikan masalah tertentu. Hasil akbar dari semua proses berpikir tersebut disebut tujuan (goal).

Pada saat tujuan telah dicapai, pikiran akan segera berha-dapan dengan tujuan-tujuan lainnya yang akan dicapai. Di mana se-mua tujuan-tujuan ini bila terselesaikan akan mengantar ke suatu tujuan utama. Dalam proses ini tidak ada satupun cara berpikir yang mengarah ke tujuan akhir dilakukan secara acak dan sembarangan.

Kecerdasan manusia dapat dipecah-pecah menjadi kumpulan fakta-fakta (facts) dan fakta-fakta ini yang digunakan untuk mencapai tujuan. Hal ini dilakukan dengan memformulasikan sekelompok aturan-aturan(rules) yang berhubungan dengan fakta-fakta yang disimpan dalam otak.

Sistem pakar

Sistem pakar adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar. Pakar yang dimaksud disini adalah orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat selesaikan orang awam. Sebagai contoh, dokter adalah seorang pakar yang mampu mendiagnosis penyakit yang diderita pasien serta dapat memberikan penatalaksanaan terhadap penyakit tersebut.

Langkah pertama dalam pemecahan suatu masalah adalah dengan menemukan area masalah atau domain untuk dipecahkan. Pertimbangan ini sama halnya dalam Artificia lntelligence (AI) dengan pemprograman konvensional.

Sebuah sistem pakar memiliki 2 komponen utama yaitu basis pengetahuan dan mesin infensi. Basis pengetahuan merupakan tempat penyimpanan pengetahuan dalam memori komputer, dimana pengetahuan ini diambil dari pengetahuan pakar.

Sistem pakar merupakan cabang dari kecerdasan buatan dan juga merupakan bidang ilmu yang muncul seiring perkembangan ilmu komputer saat ini. Sistem pakar adalah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dalam bidang tersebut. Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli. Dengan sistem pakar ini, orang awampun dapat menyelesaikan masalah yang cukup rumit yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para ahli. Bagi para ahli, sistem pakar ini juga akan membantu aktivitasnya sebagai asisten yang sangat berpengalaman. Ada beberapa defenisi tentang sistem pakar, antara lain:

  • Menurut Durkin: sistem pakar adalah suatu program komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan penyelesaian masalah yang dilakukan oleh seorang pakar.
  • Menurut Ignizio: Sistem pakar adalah suatu model dan prosedur yang berkaitan, dalam suatu domain tertentu, yang mana tingkat keahliannya dapat dibandingkan dengan keahlian seorang pakar.
  • Menurut Giarratano dan Riley: sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang bisa menyamai atau meniru kemampuan seorang pakar.

Sistem pakar pertama kali dikembangkan oleh komunitas AI pada pertengahan tahun 1960. Sistem pakar yang muncul pertama kali adalah General-purpose Problem Solver (GPS) yang dikembangkan oleh Newel dan Simon. GPS ini mengalami kegagalan dikarenakan cakupannya terlalu luas sehingga terkadang justru meninggalkan pengetahuan-pengetahuan penting yang seharusnya disediakan.

Pada dasarnya sistem pakar diterapkan untuk mendukung aktivitas pemecahan masalah. Beberapa aktivitas pemecahan yang dimaksud antara lain: pembuatan keputusan (decision making), pemanduan pengetahuan (knowledge fusing), pembuatan desain (designing), perencanaan (planning), prakiraan (forecasting), pengaturan (regulating), pengendalian (controlling), diagnosis (diagnosing), perumusan (prescribing), penjelasan (explaining), pemberian nasihat (advising) dan pelatihan (tutoring). Selain itu sistem pakar juga dapat berfungsi sebagai asisten yang pandai dari seorang pakar (Kusrini, 2006).

Secara garis besar, banyak manfaat yang dapat diambil dengan adanya sistem pakar, antara lain (Sri Kusumadewi, 2003):

  • Membuat seorang yang awam bekerja seperti layaknya seorang pakar.
  • Meningkatkan produktivitas akibat meningkatnya kualitas hasil pekerjaan, meningkatnya kualitas pekerjaan ini disebabkan meningkatnya efisiensi kerja.
  • Menghemat waktu kerja.
  • Menyederhanakan pekerjaan.
  • Merupakan arsip terpercaya dari sebuah keahlian, sehingga bagi pemakai sistem pakar seolah-olah berkonsultasi langsung dengan sang pakar, meskipun mungkin sang pakar telah tiada.
  • Memperluas jangkauan, dari keahlian seorang pakar. Di mana sebuah sistem pakar yang telah disahkan, akan sama saja artinya dengan seorang pakar yang tersedia dalam jumlah besar (dapat diperbanyak dengan kemampuan yang persis sama), dapat diperoleh dan dipakai di mana saja.

https://webdosen.budiluhur.ac.id/dosen/930011/Kuliah/AI.PDF

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25713/3/Chapter%20II.pdf

http://directory.umm.ac.id/sistem-pakar/bab12_sistem_pakar.pdf

http://fahrul008.files.wordpress.com/2008/01/06-kecerdasan-buatan.pdf

https://webdosen.budiluhur.ac.id/dosen/930011/Kuliah/buku_AI.PDF

http://komputa.if.unikom.ac.id/_s/data/jurnal/volume-01/komputa-1-1-perbandingan-metode-jaringan-irawan-7.pdf/pdf/komputa-1-1-perbandingan-metode-jaringan-irawan-7.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18888/4/Chapter%20II.pdf

Kusrini. Aplikasi sistem pakar. (2008).

Pengantar sistem pakar. Bab 1 pengenalan sistem pakar

 
 
Design a site like this with WordPress.com
Get started